Senin 26 Oct 2020 23:25 WIB

Kapolda Prihatin Banyak Pelajar Berbuat Rusuh Saat Demo

Menurut Nana, sekolah perlu membuat program pembentukan karakter pelajar.

Rep: Ali Mansur/ Red: Andri Saubani
Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana. Republika/Putra M. Akbar
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana. Republika/Putra M. Akbar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Nana Sudjana merasa prihatin dengan banyaknya pelajar yang berbuat kerusuhan pada saat aksi demonstrasi. Karena itu, pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah daerah juga para kepala sekolah, se-Jabodetabek. Diharapkan pihak sekolah membuat program atau kegiatan untuk mencegah pelajar berbuat rusuh.

"Tentunya kami mengharapkan untuk menekankan kembali pembentukan kepribadian dan pembentukan karakter dengan pembentukan ekstrakurikuler yang mengarah kepada pembentukan karakter," ungkap Nana dalam konferensi pers di Gedung Promoter, Jakarta Selatan, Senin (26/10).

Baca Juga

Program pembentukan karakter tersebut, kata Nana, sebagai solusi terbaik agar pelajar tidak dimanfaatkan oleh kelompok antikemapanan yang menimbulkan aksi anarkis. Apalagi para pelajar merupakan generasi bangsa yang semestinya mendapatkan bekal pembelajaran yang positif. Sehingga ke depannya para pelajar tidak mudah dihasut.

"Pengetahuan Pancasila, supaya para pelajar ini tidak terhasut dengan mengarah kepada masalah-masalah pidana," jelas Nana.

 

Nana melanjutkan, pada saat aksi unjuk rasa penolakan Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja tanggal, 8,13, dan 20 Oktober 2020 sebayak 2.667 orang yang diamankan. Dari 2.667 orang tersebut, sebanyak 70 persen di antaranya para pelajar. Mereka tidak hanya datang, dari Jakarta tapi juga Tangerang, Bogor, Bekasi, Sukabumi, Subang, Indramayu hingga Cirebon.

"Dari hasil keterangan beberapa pelajar bahwa memang mereka mayoritas ajakan dari media sosial. Diajak untuk melakukan aksi demo tetapi ada penekanan mengarah kepada aksi demo anarkis," terang Nana.

Terkait penghasut atau penggerak para pelajar tersebut, Nana mengatakan, pihak Polda Metro Jaya telah meringkus lima pelaku. Mereka sebagai admin media sosial yang diduga menghasut dan mendorong para pelajar untuk ikut unjuk rasa yang pada akhirnya berbuat kerusuhan. Hingga saat ini, pihak Kepolisian akan terus mengusut secara tuntas kasus penggerak pelajar tersebut.

"Jadi sampai saat ini lima admin ini masih kami tahan, kami masih melakukan penyelidikan pengejaran terhadap siapa yang mengajak pelajar ini. Ini terus kami kembangkan," ujar Nana.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement