Rabu 02 Sep 2020 14:17 WIB

Pilkada Sleman Didorong Kedepankan Politik Gagasan

Politik gagasan ini sangat relevan dan akan membuat demokrasi berkualitas.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Warga yang tergabung dalam Masyarakat Pendukung Demokrasi melakukan aksi Mendukung Pilkada Damai.
Foto: ANTARA/MOHAMMAD AYUDHA
Warga yang tergabung dalam Masyarakat Pendukung Demokrasi melakukan aksi Mendukung Pilkada Damai.

REPUBLIKA.CO.ID,  SLEMAN -- Kabupaten Sleman, DIY, bersiap menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada). Ketua DPP Partai Gelora Indonesia Kabupaten Sleman, Adi Winarso, pun mendorong agar gelaran pilkada mendatang dapat mengedepankan politik gagasan, bukan politik identitas, agama, dan atribut lain yang tidak relevan dengan kemajuan Sleman.

Politik gagasan ini, kata dia, sangat relevan dan akan membuat demokrasi berkualitas dan hasil setelah pilkada berkualitas untuk kemajuan Sleman. Ia turut berharap Pilkada 2020 di Sleman berjalan damai, aman, dan kondusif.

Hal itu ia sampaikan saat deklarasi dukungan Partai Gelora Indonesia Kabupaten Sleman kepada  pasangan calon bupati Kustini Purnomo dan Danang Maharsa. Dukungan diberikan sebagai wujud komitmen untuk terlibat aktif dalam Pilkada 2020.

Adi Winarso mengatakan, mereka memang belum pernah mengikuti pemilu. Namun, parpol merupakan sarana agregasi kepentingan rakyat dalam menentukan arah kebijakan pemerintah.

Dimulai dengan melakukan komunikasi politik baik ke kandidat maupun sesama parpol. Menurut Adi, kondisi hari ini membuat mereka sebagai partai politik harus mengambil sikap memberi dukungan ke salah satu pasangan calon.

"Setelah melalui serangkaian proses komunikasi,  Partai Gelora Sleman menyatakan dukungan kepada pasangan calon Kustini Purnomo-Danang Maharsa sebagai bupati dan wakil bupati Sleman," kata Adi.

Deklarasi dilakukan dalam dialog bersama kader-kader muda Partai Gelora. Ia menekankan, dialog terus dilakukan memastikan dukungan diberikan ke figur yang mendengar aspirasi, kritikan, dan sumbang saran warga Sleman umumnya.

Baik itu yang tua, muda, miskin, kaya, elite, rakyat, pria, wanita. Dialog, disebut pula sebagai pembelajaran bagi pemimpin dan masyarakat untuk selalu mau mendengar suara untuk perbaikan Sleman.

"Buat apa memilih pemimpin yang berjarak dari rakyat. Tidak saja jarak fisik namun jarak pemikiran karena tidak mau berdialog mendengar aspirasi warga. Sejauh ini, Bu Kustini dan Pak Danang sosok yang turun ke warga dan bisa berdialog," ujar Adi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement