Senin 13 Jul 2020 19:47 WIB

MPLS di SDN Srengseng 05 Pagi Diisi Kunjungan Orang Tua

Orang tua murid datang ke sekolah untuk mengambil buku paket.

Ilustrasi sekolah. Hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di SDN Srengseng 05 Pagi, Kembangan, Jakarta Barat diisi dengan kunjungan orang tua murid.
Foto: Infografis Republika.co.id
Ilustrasi sekolah. Hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di SDN Srengseng 05 Pagi, Kembangan, Jakarta Barat diisi dengan kunjungan orang tua murid.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di SDN Srengseng 05 Pagi, Kembangan, Jakarta Barat diisi dengan kunjungan orang tua murid. Berbeda dari tahun sebelumnya, MPLS di sekolah tersebut tidak ada seorang murid yang datang karena untuk sosialisasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi para orang tua.

"Para orang tua murid juga hari ini dijadwalkan mengambil buku paket. Untuk kelas I sampai III ada 10 buku dan untuk kelas IV sampai VI ada 12 buku," kata Ketua Penyelenggara MPLS SDN Srengseng 05 Pagi, Samlawih di Jakarta, Senin (13/7).

Baca Juga

Samlawih mengatakan para orang tua murid dimasukan ke dalam grup WhatsApp sekolah, dan dipandu menggunakan Google Meet untuk keperluan PJJ anak-anaknya "Jadi kalau ada tugas itu kami kirim ke orang tua murid dan nanti orang tua murid membimbing," paparnya.

Hal tersebut dilakukannya agar orang tua siswa yang memiliki kendala gagap teknologi, dapat mengikuti bimbingan penggunaan aplikasi kelas virtual via Google Meet. "Apalagi aplikasi ini akan dipakai setiap hari. Jadi mungkin di hari pertama kagok, tapi selanjutnya terbiasa," ujar dia.

PJJ di SDN Srengseng 05 pagi akan dimulai Selasa (14/7). Murid baru akan memperkenalkan diri satu persatu secara virtual, dan menerima pelajaran pertama. Orang tua murid yang datang jumlahnya dibatasi lima orang dalam satu kelas. Mereka berdatangan masuk dan keluar dengan membawa buku-buku pelajaran yang dipinjamkan sekolah.

"Anak saya di rumah saja, saya ke sini untuk perkenalan sama gurunya dan bawa buku pelajaran," ujar Titi, salah satu orang tua murid.

Titi mengaku kerepotan membimbing anaknya belajar selama PJJ yang dijalankan anaknya selama empat bulan di kelas III. Namun, hal itu harus dilakukannya selama sekolah belum mengadakan pembelajaran tatap muka.

Sementara itu, orang tua murid lainnya, Ita mengaku pengeluarannya menjadi lebih besar untuk membeli paket data demi mengikuti PJJ. "Per bulan sekitar Rp75.000 buat paket data, belum kalau di rumah jajannya lebih banyak lagi. Kalau di sekolah kan saya kasih uang jajan segitu harus cukup," kata Ita.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement