Rabu 24 Jun 2020 15:51 WIB

11 Anak Meninggal Akibat DBD di Tasikmalaya

Sebanyak 16 orang dinyatakan meninggal akibat DBD dan 11 di antaranya anak-anak.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andi Nur Aminah
Seorang pasien anak penderita DBD menjalani perawatan (ilustrasi)
Foto: Antara/Oky Lukmansyah
Seorang pasien anak penderita DBD menjalani perawatan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Dinas Kesehatanan Kota Tasikmalaya mencatat, hingga saat ini terdapat lebih dari 600 kasus demam berdarah dengue (DBD). Sebanyak 16 orang dinyatakan meninggal dunia akibat DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangat mengatakan, sejak awal tahun hingga Juni 2020 tercatat ada 634 kasus DBD. Angka itu mengalami peningkatakan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019, yang menunjukkan angka 588 kasus. "Yang paling memprihatinkan, dari 16 orang yang meninggal, 11 orang di antaranya itu anak-anak," kata dia, Rabu (24/6).

Baca Juga

Berdasarkan data per wilayah, Kecamatan Kawalu merupakan wilayah paling tinggi mencatatkan kasus DBD dengan 118 penderita dan lima kasus kematian. Posisi kedua ditempati oleh Kecamatan Mangkubumi dengan 84 kasus, selanjutnya Kecamatan Tamansari 70 kasus, Cihideung 66 kasus, Cibereum 58 kasus, dan sisanya menyebar di kecamatan lain.

Sementara kasus kematian akibat DBD selain di Kecamatan Kawalu dengan lima kasus, juga terjadi di Cipedes tiga kasus, Purbaratu, Bungursari, dan Cihideung, masing-masing dua kasus, serta Indihiang dan Tawang masing-masing satu kasus.

Uus mengatakan, pihaknya telah melakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk penanggulangan DBB. Pihaknya juga akan mengumpulkan para camat agar lebih menggerakan warganya dalam program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara bersama-sama. "Karena faktor yang penting adalah PSN. Tidak bisa hanya mengandalkan fogging," kata dia.

Ia juga mengingatkan agar warga menjaga pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Menurut dia, PSBH itu penting bukan hanya untuk menanggulangi Covid-19, tapi juga DBD. Sebab, DBD di Kota Tasikmalaya juga berpotensi menjadi wabah.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement