Sabtu 13 Jun 2020 21:55 WIB

Banjir Bantaeng Rusak Ribuan Rumah, Ratusan Warga Mengungsi

Para warga korban banjir di Bantaeng mengungsi di delapan titik posko darurat.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Yudha Manggala P Putra
Seorang warga mengangkat sisa barangnya didekat rumah yang rusak terseret arus banjir bandang di Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Sabtu (13/6/2020). Banjir bandang yang terjadi akibat jebolnya tanggul bendungan Balangsikuyu yang tidak mampu menampung tingginya curah hujan tersebut mengakibatkan puluhan rumah rusak berat dan hilang diterjang banjir yang disertai dengan material batu dan lumpur
Foto: ANTARA /Abriawan Abhe
Seorang warga mengangkat sisa barangnya didekat rumah yang rusak terseret arus banjir bandang di Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Sabtu (13/6/2020). Banjir bandang yang terjadi akibat jebolnya tanggul bendungan Balangsikuyu yang tidak mampu menampung tingginya curah hujan tersebut mengakibatkan puluhan rumah rusak berat dan hilang diterjang banjir yang disertai dengan material batu dan lumpur

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ratusan warga terpaksa diungsikan lantaran banjir yang melanda Kabupaten Bantaeng, di Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (13/6). Satu orang, pun dipastikan meninggal dunia lantaran terseret arus banjir.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantaeng mencatat, banjir memorak-porandakan 2.333 rumah tinggal warga di tiga kelurahan di wilayah bencana.

“BPBD Kabupaten Bantaeng, saat ini dalam proses membantu para warga terdampak banjir untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman,” begitu laporan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang disampaikan kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (13/6).

Berdasarkan laporan tersebut, sementara ini, para warga korban banjir, mengungsi di delapan titik posko darurat.

Di Gedung Muhammadiyah Bantaeng, tercatat ada 35 warga yang mengungsi. Sebanyak 35 orang lainnya, juga terpaksa diungsikan ke Masjid Jami Tanganga. Di SD Inpres Tappajeng, sekitar 25 warga juga menginap sementara sejak Jumat (12/6) untuk mengungsi.

Di Masjid Nurul Yaqin, laporan BPBD kepada BNPB, tercatat ada 20-an warga pengungsi. Begitu juga di Mushala Cabang BRI, ada sekitar 25 warga pengungsi. Di Masjid Cabodo, sebanyak 30-an orang, dan lima orang terpaksa memanfaatkan Posko Induk Covid-19 sebagai tempat mengungsi sementara.

BNPB menyampaikan, laporan dari BPBD Bantaeng, banjir sudah menghantan wilayah itu sejak Jumat (12/6). “Banjir dipicu tingginya intensitas hujan yang menyebabkan permukaan air Sungai Calendu, meluap ke pemukiman warga,” begitu dikatakan BNPB.

Debit air yang di luar perkiraan pun membuat jebol DAM Balang Sikuyu. Jebolnya penampung debit air tersebut, membuat banjir semakin meluas. Kini tercatat sedikitnya, ada delapan wilayah terparah banjir.

Yaitu di Kelurahan Pallantikang, Kelurahan Tappanjeng, dan Kelurahan Mailililing. Banjir juga merendam pemukiman di Kelurahan Bonto Rita, Kelurahan Bonto Sunggu, dan Kelurahan Bonto Atu, juga Kelurahan Bonto Lebang.

Banjir di wilayah itu meluas sampai ke Desa Bonto Jai, di Kecamatan Bissappu,  dan Desa Bonto Majannang di Kecamatan Sinoa. Hingga saat ini, banjir di wilayah tersebut, telah merenggut satu korban jiwa Haerul Fatta Ampa (14 tahun) karena terseret arus.

Banjir juga mengisolasi Perkampungan Kaili. Jembatan sepanjang 10 meter yang menghubungkan desa itu, rusak dan tak dapat dilalui. Di akses menuju Bantaeng, jalur lingkar selatan sepanjang 40 meter juga terputus.

Banjir, yang masih dibasahi derasnya hujan, juga membuat jalanan menuju Bantaeng, mengalami longsor, dan tak dapat dilewati kendaraan. Dari data sementara, dipastikan 2.333 rumah warga rusak. Kerugian akibat banjir dan longsor, diperkirakan mencapai Rp 25 miliar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement