Kamis 07 May 2020 16:49 WIB

Tegal Diminta tak Terlena dengan Capaian PSBB

Sejak PSBB diberlakukan Tegal tidak memiliki kasus positif baru.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Indira Rezkisari
Sejumlah pedagang menunggu pembeli di Pasar Bandung Kimpling, Tegal, Jawa Tengah. PSBB di Kote Tegal dianggap sukses menekan angka kasus positif Covid-19.
Foto: ANTARA/Oky Lukmansyah
Sejumlah pedagang menunggu pembeli di Pasar Bandung Kimpling, Tegal, Jawa Tengah. PSBB di Kote Tegal dianggap sukses menekan angka kasus positif Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Langkah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) –disebut-sebut efektif untuk menekan risiko penyebaran pandemi Covid-19 di wilayah di Kota Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Sampai hari ini, tidak ada seorangpun yang positif Covid-19 di Kota Tegal sejak PSBB diberlakukan.

Fakta tersebut merupakan perubahan besar yang telah dicapai Tegal  dalam upaya menangani pandemi Covid-19. Wakil Wali Kota Tegal, M Jumadi mengungkapkan, sejak ada warganya yang terkonfirmasi positif Covid-19, penerapan PSBB hingga sampai saat ini, Kota Tegal tercatat nol kasus positif Covid-19.

Baca Juga

“Untuk kasus Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP), grafiknya juga terus melandai,” ungkapnya, saat memberikan paparan kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Kamis (7/5).

PSBB, lanjut Jumadi, telah membuat masyarakat Kota Tegal menjadi disiplin, kendati pada awal penerapan banyak protes dan pelanggaran. Seperti masih banyak warga yang tidak pakai masker, berkerumun dan melanggar physical distancing masih tinggi.

Namun di minggu kedua PSBB, jumlah pelanggaran tersebut terus menurun dan masyarakat semakin tertib. “Saat ini masyarakat di daerahnya sudah patuh dan melaksanakan dengan baik aturan yang berlaku,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan, meski cukup berdampak dan memberikan perubahan, namun bukan berarti penerapan PSBB di Kota Tegal tidak menghadapi kendala. Seperti adanya pemudik dari zona merah yang terus berdatangan, sebagian kecil masyarakat yang tetap abai pada protokol kesehatan, termasuk terhadap imbauan pembatasan aktivitas keagamaan di tempat ibadah.

“Di beberapa titik aktivitas di tempat ibadah masih berjalan. “Tetapi kami akan terus berupaya agar penerapan PSBB di Kota Tegal ini bisa lebih optimal lagi dalam mencegah dan menekan penyebaran Covid-19,” tegas Jumadi.

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengapresiasi capaian dari penerapan PSBB di Kota Tegal tersebut. Ia berharap, capaian itu bisa tetap dijaga dengan baik dan sebisa mungkin terus dioptimalkan.

“Hari ini Kota Tegal yang positif Covid-19 nol, jadi sebenarnya Kota Tegal bisa disebut kembali hijau. Memang awalnya banyak orang protes dan marah-marah, tapi sekarang kita mendapat hasil yang bagus,” ungkapnya.

Kendati begitu, Gubernur juga mengingatkan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal lanjut tidak lantas berpuas diri. Sebab menurutnya, pandemi Covid-19 ini belum usai dan semua harus bisa menjaga agar ekonomi bisa kembali bergerak.

Sebab tidak mudah untuk mempertahankan apa yang sudah dicapai. Dukungan kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat untuk bersama-sama sadar akan pentingnya melaksanakan aturan dan imbauan Pemerintah menjadi kunci.

Maka, masih kata Ganjar, sebelum Kota Tegal memutuskan untuk melakukan relaksasi PSBB, ia pun mewanti-wanti betul kepada Pemkot Tegal agar memastikan protokol kesehatan menyeluruh telah dilaksanakan oleh warganya Jarak diatur, wajib pakai masker dan kalau melanggar harus ditindak secara hukum. Sebab Kota Tegal masih ‘terkurung’ daerah ‘merah’ pandemi Covid-19, seperti Brebes, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang.

Dikhawatirkan jika masih ada interaksi antara masyarakat Kota Tegal dengan daerah di sekitarnya tanpa mengindahkan protokol kesehatan, dikhawatirkan bisa melemahkan apa yang sudah dicapai saat ini. “Sehingga ini harus dijaga dengan baik. Saya minta pada warga Tegal, tolong kalau tidak penting jangan keluar rumah, kalaupun  terpaksa maka harus wajib pakai masker dan tetap jaga jarak,” tegasnya.

Gubernur juga menambahkan, Pemkot Tegal bisa umembentuk tim khusus. Tim itu ditugaskan untuk mencari klaster baru penyebaran Covid-19, yakni klaster ijtima ulama Gowa yang saat ini masih terus dilacak.

“Saya minta dibuat tim khusus untuk mencari mereka-mereka yang kemarin mengikuti acara ijtima ulama di Gowa. Cari mereka ada di mana saja, karena sampai saat ini masih banyak yang belum melapor,” tegasnya.

Ganjar khawatir akan terjadi penyebaran wabah baru dari klaster ijtima ulama Gowa. Kekhawatiran itu sebenarnya mulai muncul, dengan adanya 16 alumni ijtima ulama Gowa di Brebes yang positif covid-19.

“Ini kan membingungkan, bagaimana ya kalau kaya gini, mau selesai sampai kapan. Maka, tolong teman-teman dari Gowa untuk melapor. Jangan takut, tidak akan kami marahi, justru akan kami bantu perawatan agar kalau positif tidak menulari keluarga atau lainnya,” kata Ganjar.

Berita Terkait
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi