Senin 04 May 2020 18:56 WIB
Babi

Tiga B Yang Bukan Anjing, Babi, Apalagi Banteng

Bahasa dan kekuasaan tentang anjing dan babi

Masyarakat Aceh berburu babi dengan membawa anjing.
Foto: google.com
Masyarakat Aceh berburu babi dengan membawa anjing.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Isti Nugroho, Aktivis dan Penggemar Filsafat

Membaca buku Bondan Winarno 100 Makanan Tradisional Indonesia mak nyus yang ditulisnya sendiri dan 100 mak nyus JAKARTA, yang ditulis bersama Lidia Tanod dan Harry Nazarudin, saya tidak menemukan masakan yang bahan dasarnya daging anjing dan babi.

Mas Bondan, begitu ia akrab dipanggil tak mempopulerkan masakan "sengsu atawa sate babi" di kalangan masyarakat Indonesia, pasalnya selain haram juga barangkali tak memarik.

Sayapun juga tidak membicarakan b1 atau b2, anjing dan babi. Tulisan ini hanya mengingatkan pengalaman kami bertiga, saya : Bambang Isti Nugroho, Bambang Subono dan Bonar Tigor Naipospos. Karena nama kami bertiga berawalkan B, maka kasus kami ditulis 3B. B1 pastilah bukan anjing dan B2 juga bukan babi, apalagi B3 bukan juga Banteng.

Tapi media masa waktu itu menulis dengan inisiasi B3. Koran, majalah dan percakapan di kalangan intel kodim dan laksusda, kejaksaan dan kehakiman meringkasnya dengan perkara B3.

Koran lokal menulis "KASUS B3 DILIMPAHKAN KE KEJAKSAAN NEGERI YOGYAKARTA" atau "Penanganan Kasus B3 Sampai ke Pusat."

Itulah yang bisa saya ingat, berita-berita yang beredar waktu itu. Mulai dari penangkapan 11 Juni 1988 sampai vonis November 1989. Berita tentang kami dengan akronim B3.

Sebelum Bonar Tigor Naipospos ditangkap, penyebutannya pasti bukan B3. Karena Coki, panggilan akrab Bonar, ditangkap setelah 1 tahun saya dan Bono ditahan. Ketika kami berdua sudah menanda tangani BAP.

Penangkapan Coki itulah yang membuat istilah B3 itu dipopulerkan dikalangan intelijen yang bertugas di Jogya, baik yang berasal dari ABRI, Polisi dan Kejaksaan. Sebelum Coki ditangkap istilahnya masih B2.

Kenapa mereka dari pihak pemerintah menyebut perkara kami dengan singkatan B2, memnurut saya itu bahasa sandi. Sandi dari para intel yang memata-matai mahasiswa agar tidak bisa dicerna oleh pengertian umum.

Siapa yang disebut B1 ? Saya atau Bono. Siapa yang disebut B2 oleh aparat Bono atau saya. Kami tidak tahu. Menurut interpretasi saya karena Bambang Subono ditangkap duluan, maka Bono diistilahkan B1. Dan 11 hari kemudian baru saya ditangkap. Maka saya diistilahkan B2. Kalau kemudian dianalogikan dengan makanan B1 disebut dengan makanan yang bahan dasarnya dari daging anjing. Dan B2 terbuat dari daging Babi.

Kalau B3 saya belum tahu, terbuat dari daging apa, makanan dengan istilah B3 itu. Atau apakah ada masakan atau makanan dengan istilah B3.

Babi dan anjing adalah 2 jenis daging yang diharamkan umat Muslim. Apakah aparat waktu itu menyebut kami B1 dan B2 itu diasosiasikan dengan istilah makanan? Kesengajaan yang dibuat aparat itu apa untuk membuat asosiasi dalam masyarakat bahwa masalah kami adalah najis.

Itu karena yang dituduhkan pada kami bertiga adalah penyebaran paham komunis yang terkandung dalam novel Pramudya Ananta Tour, BUMI MANUSIA. Di dalam politik bahasa asosiasi itu sering dipakai pemerintah untuk menghancurkan lawan-lawan politiknya.

Sebagai mana yang ditunjukan Levi-Strauss, Roland Barthes dan Ferdinand de Sausser bahwa bahasa sering keluar dari perangkap maknanya sendiri.Perangkap dari luar itu datangnya sering dari kekuasaan politik. Politik kekuasaan menaksirkan makna bahasa itu sesuai dengan kepentingannya.

Saya kira istilah B3 untuk menyebut kasus kami bertiga, bukanlah karena kemalasan insan pers atau sebuah akronim biasa saja. Tetapi sebuah asosiasi yang dilemparkan dalam politik bahasa kekuasaan Orde Baru.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement