Ahad 03 May 2020 18:47 WIB

Cerita Petugas Medis Corona, Dimaki Hingga Disebut Gila

Salah satu pasien sulit adalah OTG dan tidak sadar ia ternyata sakit.

Petugas medis COVID -19 (ilustrasi).
Foto: Prayogi/Republika
Petugas medis COVID -19 (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Sejumlah petugas medis di Kota Surabaya, Jawa Timur, mengaku sering dimarah-marahi hingga dicaci maki saat melakukan penyelidikan epidemiologi atau tracing terhadap orang dalam pemantauan (ODP) maupun orang tanpa gejala (OTG) Covid-19. Cerita itu beredar di grup WA pelacakan Corona.

"Di puskesmas itu kan ada beberapa tim yang diterjunkan. Tim itu punya grup WhatsApp, dan ceritanya di grup itu hampir sama semua, ya ada yang dimarah-marah dan ada yang dicaci maki," kata Fiqqi Fierly, salah seorang petugas medis Puskesmas Krembangan Selatan Surabaya, Ahad (3/5).

Baca Juga

Fiqqi mengakui bahwa di awal-awal melakukan tracing itu, berkali-kali dia dikatakan sebagai orang gila, tidak ada kerjaan, dan berbagai cacian yang sangat kurang enak di hati. Namun, karena itu tugas pekerjaan dan demi menolong warga Surabaya, ia tetap melakukannya meski penuh dengan perjuangan.

"Yang paling sulit itu ketika ada OTG dan tidak sadar bahwa dirinya sakit, sehingga dia menolak untuk diisolasi dan diobati. Mereka selalu bilang saya ini sehat, kenapa harus diobati. Nah, yang seperti ini yang sangat butuh perjuangan. Luar biasalah pokoknya," katanya.

Fiqqi juga menjelaskan bahwa Covid-19 dan orang yang terkena virus itu, termasuk para tim medisnya, seakan dianggap aib di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu, ia berharap kepada warga untuk sadar bahwa virus ini bukan aib seperti layaknya HIV/AIDS.

"Ini wabah yang harus kita hadapi bersama, makanya saya selalu miris ketika melihat masih banyak yang tidak pakai masker dan tidak jaga jarak," katanya.

Padahal, lanjut dia, pihaknya berjuang mati-matian untuk menolong pasien Covid-19 ini. Bahkan, ia sampai tidak memikirkan diri sendiri dan keluarga demi membantu saudara-saudara yang terkena COVID-19 ini. "Jadi, ayo kita hadapi ini bersama-sama," katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Febria Rachmanita mengatakan banyak cerita dari tim surveilans atau petugas tracing di lapangan, mulai yang ditolak, dimarah-marahi, diusir hingga dicaci maki. Para ODP ini juga masih sering bilang bahwa mereka sehat, padahal badannya sudah terkena virus, dan ketika didatangi ke rumahnya marah-marah.

"Banyak ceritanya begitu-begitu. Makanya petugas medis itu harus sabar, karena si ODP ini banyak yang belum menyadari bahwa mereka itu sakit," katanya.

Oleh karena itu, ia sangat berharap kepada masyarakat untuk bersama-sama memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Salah satunya dengan menumbuhkan kesadaran. Jika memang dikatakan sakit oleh petugas medis, maka harus segera isolasi diri dan menjalankan protokol yang telah ditentukan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement