Rabu 18 Mar 2020 16:45 WIB

Pemkot Siapkan Rumah Sakit Tersentral Tangani Corona

RSUD dr Moewardi merupakan salah satu rumah sakit rujukan yang ditentukan pemerintah

Rep: binti solikah/ Red: Hiru Muhammad
Tim medis melakukan pemeriksaan terhadap seorang pasien pada kegiatan simulasi penanganan virus Corona di RSUD Dr. Moewardi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/1/2020).(Antara/Mohammad Ayudha)
Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Tim medis melakukan pemeriksaan terhadap seorang pasien pada kegiatan simulasi penanganan virus Corona di RSUD Dr. Moewardi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/1/2020).(Antara/Mohammad Ayudha)

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO - Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menyiapkan rumah sakit tersentral untuk menangani pasien dicurigai maupun terkonfirmasi positif Corona atau Covid-19. Hal itu untuk mengantisipasi meningkatnya pasien yang dirujuk ke RSUD dr Moewardi.

Pemkot Solo telah melakukan pertemuan dengan Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Solo Raya mengenai penanganan virus Corona pada Selasa (17/3). Dalam pertemuan tersebut, ARSSI menyarankan kepada Pemkot untuk menyiapkan rumah sakit tersentral untuk menangani pasien Corona.

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan, RSUD dr Moewardi merupakan salah satu rumah sakit rujukan yang ditentukan  pemerintah. Namun, jika nantinya terjadi kelebihan pasien maka dibutuhkan rujukan rumah sakit daerah yang dikelola Pemerintah Kota. Saat ini Pemkot Solo memiliki dua rumah sakit yakni RSUD Ngipang dan RSUD Bung Karno.

Wali Kota menyatakan telah meminta Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) untuk mengurus terkait persiapan rumah sakit tersentral tersebut. "Kalau kami diminta rujukan ke Moewardi sudah penuh umpamanya dilimpahkan ke daerah Kota Surakarta  kami harus siap tetapi kesiapan ini nanti harus didukung tenaga medis dari swasta," terang Wali Kota.

Rudyatmo akan menyiapkan segala peralatan apabila rumah sakit daerah benar-benar ditunjuk. Namun, Pemkot akan meminta bantuan ARSSI dalam menyiapkan tenaga medis. Pemkot meminta tenaga medis berjaga dibagi menjadi tiga shift. "Kami siap dengan catatan petugas medisnya harus tiga shift, spesialis parunya, ini dan itu, laboratorium," ujarnya.

Menurutnya, dari dua rumah sakit milik Pemkot tersebut, RSUD Bung Karno dianggap paling siap. Sebab, RSUD Bung Karno belum menerima pasien BPJS sehingga belum seramai rumah sakit lain. "Kalau seluruh bed digunakan untuk pasien Corona, bisa saja. Rencana ini sedang dimatangkan," paparnya.

Ketua ARSSI Solo Raya, Mardiatmo, mengatakan, dalam masa tanggap darurat virus Corona saat ini rumah sakit swasta harus bisa melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. ARSSI mempersiapkan semua fasilitas yang ada di rumah sakit swasta ini untuk melaksanakan penanganan pasien Corona bersama-sama dengan pemerintah. "Persiapan tim dari rumah sakit swasta semua sudah siap," kata Mardiatmo.

Pemkot Solo terus memantau kondisi orang dalam pemantauan (ODP) yang menjalani karantina mandiri. Jumlahnya saat ini mencapai sekitar 100 orang termasuk karyawan rumah sakit swasta yang pernah kontak dengan pasien terkonfirmasi positif Corona. Untuk mematau para ODP, petugas memanfaatkan teknologi digital berupa panggilan video atau video call.

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, menyatakan warga yang menjalani karantina mandiri tersebut dalam kondisi baik dan tidak mengeluhkan gangguan kesehatan. "Karantina mandiri itu kami pantau. Kami pakai video call juga untuk memantau posisinya dimana dan kondisinya bagaimana," kata Siti kepada wartawan.

Selain melakukan pemantauan, Pemkot juga memberikan bantuan logistik kepada warga tersebut untuk memastikan kebutuhan pokok mereka tercukupi selama masa karantina.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement