Jumat 14 Feb 2020 20:42 WIB

Dinkes Bantul: Ada 160 Kasus Demam Berdarah Sejak Awal 2020

Banyaknya kasus penderita demam berdarah dengue menjadi perhatian pemerintah daerah.

Ilustrasi.
Foto: Republika/Prayogi
Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL -- Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebut telah ada sekitar 160 kasus demam berdarah dengue yang dilaporkan dari semua rumah sakit maupun pusat kesehatan masyarakat di wilayah itu selama Januari hingga pertengahan Februari 2020.

"Untuk DBD (demam berdarah dengue) total sampai dengan hari ini (Jumat, 14/2) sekitar 160 kasus seluruh kabupaten, kalau yang enam kasus di tahun ini itu hanya di satu dusun, yaitu Dusun Pasutan Trirenggo," kata Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharjo di Bantul, Jumat (14/2).

Menurut dia, angka kasus penderita akibat gigitan nyamuk aedes aygepti yang hingga sebanyak itu cukup menjadi perhatian bagi pemerintah daerah maupun bidang kesehatan, agar ada upaya mengantisipasi bagaimana tidak menyebar atau makin bertambah kasusnya.

"Dan tahun ini sesuai dengan empirisnya kemungkinan adalah siklus lima tahunan untuk DBD, makanya Pak Bupati diawal mengajak kita semua harus waspada, karena tahun ini disinyalir akan terjadi siklus lima tahunan, akan terjadi outbreak (kejadian luar biasa) DBD," katanya.

Masyarakat, menurut dia, diminta agar selalu memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar tempat tinggal dan meminimalisir tempat-tempat yang berpotensi tergenang air dan bisa menjadi sarang nyamuk, mengingat pada awal 2020 masih terjadi hujan.

"Jadi harus hati-hati dari awal, juga kita gerakkan untuk peduli pemberantasan sarang nyamuk, dengan mengubur, menutup menguras plus menjual ke bank sampah, dari pada ditumpuk di situ juallah ke bank sampah agar tidak menjadi media perkembangbiakan nyamuk," katanya.

Agus juga mengatakan, untuk mengantisipasi perkembangbiakan nyamuk di bak penampungan kamar mandi, pihaknya menyiapkan abate atau obat tabur yang berfungsi membunuh jentik nyamuk, obat tersebut bisa diperoleh di rumah sakit maupun puskesmas terdekat.

"Jadi kami, Dinkes dan puskesmas,menyiapkan abate untuk kemudian bubuk larvasida ditabur ke masing-masing penampungan, jadi kalau memang tidak mungkin dibersihkan setiap lima hari atau seminggu sekali kasih abate, minta di puskesmas, gratis," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement