Kamis 30 Jan 2020 08:23 WIB

Geliat Sigap di Kampung Berau

Pejuang Sigap yang dilibatkan ini berasal dari orang kampung asli.

Rep: M Akbar/ Red: Agung Sasongko
Suasana Danau Tapal Kuda, Berau
Foto: Republika/M Akbar
Suasana Danau Tapal Kuda, Berau

REPUBLIKA.CO.ID, BERAU -- Tangan Maspri tampak sigap mengayuh sampan. Tatapannya menerawang ke sekitar Danau Tapal Kuda. Dalam kesendiriannya, ia tetap mengayuhkan sampan menyusuri pinggiran danau yang sudah mulai disesaki oleh tanaman enceng gondok. 

"Saya sejak SD sudah biasa seperti ini," kata Maspri menceritakan tentang pengalamannya sebagai seorang putera nelayan.

Namun, pria lulusan STM dari Samarinda ini bukanlah nelayan aktif. Sejak dua tahun silam, Maspri sudah dipercaya oleh warga Kampung Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, sebagai kepala kampung. Kampung dalam defenisi warga Berau setara dengan peran dan fungsinya sebagai lembaga pemerintahan desa.

Sebagai pemimpin muda, kebanggaan Maspri kian bertambah. Setahun silam, pemerintah Kabupaten Berau telah menetapkan status Indeks Desa Membangun (IDM) dari desa sangat tertinggal menjadi desa berkembang. Merujuk penilaian yang ditetapkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa), IDM ini meliputi indeks ketahanan sosial, Ekonomi dan ekologi desa.

“Saya sangat berterima kasih dengan adanya kehadiran pejuang Sigap Sejahtera di desa,” kata Maspri. 

Pejuang Sigap yang dimaksud Maspri itu merupakan akronim dari program aksi inspiratif warga untuk perubahan sejahtera. Program ini melibatkan peran pemerintah Kabupaten Berau, Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Universitas Gadjah Mada, dan perusahaan batubara Berau Coal.

Maspri mengaku kehadiran pejuang Sigap sangat membantunya dalam urusan administrasi dalam perencanaan pemerintahan kampung. Wujud kongkretnya seperti kelengkapan pembangunan kampung, pembuatan peta dimensi yang menampilkan potensi kampung sampai badan usaha milik kampung. 

“Saya senang karena pejuang Sigap yang dilibatkan ini berasal dari orang kampung asli. Jadi mereka menjadi sangat memahami persoalan yang ada di kampung,” ujar pria kelahiran Maret 1983 ini. 

Niel Makinuddin, senior manajer dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara, menjelaskan program Sigap Sejahtera ini sudah menjadi program unggulan dari pemerintah kabupaten Berau. Program ini, kata dia, menyasar pada tiga pilar utama, yakni tata kelola pemerintahan kampung, perhutanan sosial dan peningkatan ekonomi melalui badan usaha miik kampung..

“Dalam pelaksanaannya dilibatkan warga kampung untuk menjadi pejuang Sigap. Harapannya mereka bisa lebih paham terhadap potensi maupun masalah yang ada di kampungnya,” ujarnya. 

Jumlah pejuang Sigap ini, kata Niel, sebanyak  111 anak muda yang dipilih berdasarkan proses rekrutmen terbuka. Mereka terdiri dari 99 fasilitator kampung yang ada di Berau dan 12 fasilitator kecamatan. 

Niel mengatakan kehadiran pejuang Sigap ini telah menjadi katalis yang mempercepat perbaikan IDM yang berada di Kabupaten Berau. Merujuk data yang dimasukkan pada 2019, ia mengungkapkan, perubahan paling nyata terdapat pada status desa sangat tertinggal, tertinggal, dan berkembang. 

Pada data yang dirilis pada 2016, jumlah desa sangat tertinggal dan tertinggal di Kabupaten Berau itu masing-masing sebanyak 37 dan 54 kampung. Sementara untuk status desa maju dan mandiri, belum ada satupun. 

Dua tahun berikutnya atau setahun setelah program Sigap Sejahtera dijalankan, terjadi perbaikan. Jumlah desa sangat tertinggal pada 2018 hanya tersisa satu kampung. Lalu, desa dengan status berkembang berkurang menjadi 20 kampung. Sedangkan, status desa maju sudah muncul sebanyak 23 dan satu kampung dengan status desa maju. 

Adanya perbaikan status IDM tersebut, diakui oleh Bupati Berau, Muharram, karena adanya intervensi dari program Sigap Sejahtera. Secara keseluruhan, ia melihat perbaikan status desa di Berau itu karena adanya konsistensi pemerintah kabupaten dalam mengucurkan dana ke kampung. 

Selanjutnya ada juga pengaruh dari peraturan bupati yang bertugas mengawal pemanfaatan dana. Sedangkan kehadiran pendamping desa yang diprogramkan lewat Sigap Sejahtera maupun pendamping desa yang berasal dari Kemendesa, menjadi bagian penting yang telah mempercepat perbaikan IDM di Berau. 

“Hal yang tak kalah penting adalah adanya sinergi dari semua pihak untuk mendorong terjadinya perbaikan di kampung-kampung,” ujarnya.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi