Jumat 24 Jan 2020 15:51 WIB

Harimau Sumatra dari Muara Enim Direhabilitasi di Tambling

Harimau itu alami stres berat sehingga membuatnya enggan makan dan sedikit bergerak.

Rep: Mimi Kartika/ Red: Andi Nur Aminah
Harimau sumatera yang tertangkap di Muara Enim Sumatera Selatan direhabilitasi di rescue centre harimau sumatera, Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Provinsi Lampung, Jumat (24/1).
Foto: Republika/Mimi Kartika
Harimau sumatera yang tertangkap di Muara Enim Sumatera Selatan direhabilitasi di rescue centre harimau sumatera, Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Provinsi Lampung, Jumat (24/1).

REPUBLIKA.CO.ID, LAMPUNG -- Auman terdengar dari balik terpal cokelat gelap yang mengikat erat sebuah kotak perangkap. Harimau yang berada di dalamnya sesekali mengaum ketika para petugas mengangkatnya agar mendekat ke pintu kandang rehabilitasi Tambling Wildlife Natre Conservation (TWNC) Provinsi Lampung pada Rabu (22/1) siang.

Para petugas kawasan pelestarian alam satwa liar itu membutuhkan waktu sekitar dua jam sampai harimau mau berpindah ke kandang yang lebih besar dengan segala upaya tim dokter hewan dan keeper harimau. Sang predator sepertinya memerlukan waktu mencermati tempat barunya.

Baca Juga

Hingga seekor babi menjadi umpan, harimau itu baru mulai melangkah ke luar kotak dan masuk ke kandang. Akan tetapi, harimau tak memakan babi itu dan justru memilih merebahkan diri di pojok kandang.

Aksi harimau tak mau makan mangsa hidup-hidup berlanjut sampai keesokan harinya. Menurut dokter hewan TWNC Sadmoko Kusumo, harimau mengalami stres berat sehingga membuatnya enggan makan dan sedikit bergerak.

"Kondisi harimau lumayan ada perbaikan ya, dari kemarin dia belum makan, sekarang tadi terakhir ada sekitar kurang lebih satu kilogram ayam potong dia mau makan," ujar Sadmoko Kusumo di lokasi rescue harimau TWNC, Kamis (23/1) sore.

Beberapa faktor baik internal maupun eksternal membuat harimau stres. Harimau itu stres diduga karena telah melakukan perjalanan jauh dari Sumatera Selatan melalui darat dan melanjutkannya melewati jalur udara ke Lampung yang membuat harimau berada di kotak perangkap hingga 12 jam.

photo
Harimau sumatera yang tertangkap di Muara Enim Sumatera Selatan direhabilitasi di rescue centre harimau sumatera, Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Provinsi Lampung, Jumat (24/1).

Selain itu, stresnya harimau dapat dipengaruhi karena perilakunya sebelum terperangkap ataupun gangguan kesehatan. Harimau yang terperangkap Tim Satgas Penanggulangan Konflik Manusia dengan Harimau Sumatera dan Satwa Liar Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) diduga telah berkonflik dengan manusia.

Dengan demikian, sebelum jauh dilepasliarkan, harimau terlebih dahulu harus menjalani observasi di TWNC. Para dokter hewan akan memantau perilaku sang harimau sebelum melakukan cek kesehatan menyeluruh mulai dari kondisi fisik, pernapasan, detak jantung, hingga cek feses, darah, dan DNA.

Selain untuk mengecek kesehatannya, dokter juga akan memastikan pula apakah sang harimau telah memakan manusia atau tidak seperti yang diberitakan sebelumnya. Proses pembuktian itu, Harimau terlebih dahulu harus menjalani serangkaian proses rehabilitasi.

Sebab, proses perawatan terhadap harimau yang memangsa manusia dan tidak akan berbeda. Mungkin saja, dokter yang menganalisa akan tahu penyebab harimau itu memangsa warga jika memang benar terbukti nantinya.

Harimau yang dapat dilepasliarkan harus menunjukkan perilaku-perilaku alaminya yang liar, seperti takut dengan manusia, bukan justru mengaum dan melototi ketika melihat manusia. Dokter akan terus memantau perkembangan harimau dalam proses rehabilitasi hingga siap dilepaskan ke alam liar.

Menuru Sadmoko, harimau tak begitu saja menerkam manusia tanpa alasan. Sifat alami harimau itu soliter yang membuatnya terus bersaing dengan pejantan lain agar dapat menguasai teritorial hutan.

Ketika harimau kalah saing lalu berusaha mencari wilayah lainnya di hutan, justru sebagian tempat berubah menjadi permukiman warga. Sehingga saat mencari wilayah kekuasannya justru bertemu dengan hewan ternak milik warga dan berinteraksi dengan manusia.

Sehingga, ia meminta masyarakat untuk tidak merusak ekosistem dan rantai makanan di alam liar. Alam yang menjadi habitat harimau dan satwa liar maupun binatang lainnya seharusnya tak diusik manusia.

"Kalau itu terganggu enggak seimbang, dia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan apalagi ini harimau itu kan solitaire, punya wilayah, punya jelajah, apabila di tempat jelajah dia ada ketidaseimbangan dia akan berusaha mencari keseimbangan sendiri. Biasanya ada keterlibatan manusia yang membuat ketidaseimbangan di tempat itu," jelas Sadmoko.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement