Kamis 23 Jan 2020 08:04 WIB

Masyarakat Batu Urunan Pembangunan Kereta Gantung

Hasil urunan dari masyarakat tersebut, terkumpul uang sebesar Rp 350 miliar.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ratna Puspita
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa.
Foto: Dokumen.
Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, masyarakat Kota Batu sudah melakukan urunan untuk membangun kereta gantung yang akan menghubungkan sejumlah tempat wisata di Desa Oro-Oro Ombo. Hasil urunan dari masyarakat tersebut, lanjut Khofifah, terkumpul uang sebesar Rp 350 miliar.

Khofifah juga mengaku, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan studi kelayakan terkait pembangunan kereta gantung tersebut. "FS (studi kelaikan) sudah selesai. Berbeda dengan kereta gantung di taman mini, di kawasan wisata, di Batu ini akan mengkoneksikan sejumlah tempat wisata," ujar Khofifah di Surabaya, Rabu (22/1).

Baca Juga

Untuk itu, gubernur perempuan pertama di Jatim itu pun meminta bantuan Kementerian Perhubungan agar ada asesmen pembangunan kereta gantung di Kota Batu. Selain di Kota Batu, Khofifah juga berharap Kementerian Perhubungan memberioan asesmen untuk pembangunan kereta gantung di Kota Malang.

Sebab, kedua daerah itu merupakan daerah wisata paling diminati di Jatim. "Karena hal yang sama diajukan Wali Kota Malang. Koneksitas kereta gantung juga. Kalau mungkin di Kota Batu bisa asesmen, saya harap di Malang juga. Karena investornya juga sudah siap," ujar Khofifah.

Khofifah memastikan, pembangunan kereta gantung di dua daerah tersebut, tidak akan menurunkan penghasilan para pemilik kendaraan off road yang biasa difungsikan sebagai transportasi wisatawan. Karena, kata dia, kereta gantung hanya berfungsi untuk para wisatawan naik turun.

"Cable car (kereta gantung) Bromo itu hanya naik turun. Tidak melintasi pasir berbisik, Bukit Teletubbies, karena jauh. Jadi setelah naik itu, kalau mau ke kawah atau pasir berbisik tetap naik mobil," kata Khofifah.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan dukungan terkait pembangunan kereta gantung tersebut. Menurutnya, pembangunan kereta gantung ini sangat berpotensi mendatangkan keuntungan secara komersial.

Ia menilai kereta gantung diminati wisatawan. "Karena banyak sekali itu (wisatawan yang akan berminat). Itu bisa dipersiapkan, dan kami bisa membantu. Kami sudah minta Dirjen Perkeretaapian untuk memberikan izin," ujar saat menggelar pertemuan dengan Khofifah, Selasa (21/1).

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri menyatakan, siap memberikan pendampingan berupa sertifikasi pembangunan kereta gantung di Kota Batu. Sertifikasi itu penting karena terkait keselamatan wisatawan.

"Nanti akan kami bahas. Karena itu lokal, kami sifatnya hanya sertifikasi saja. Terutama dari aspek ketentuan dan keselamatan. Kami lihat dulu rutenya," kata dia.

Zulfikri menambahkan, Dirjen Perkeretaapian akan menunggu pengajuan sebelum membahas lebih lanjut tentang sertifikasi keselamatan. Pengajuan dapat dilakukan baik investor atau pemerintah kabupaten atau provinsi.

"Kalau sifatnya itu antar kabupaten/kota, itu harus diajukan oleh gubernur. Kalau trase-nya lokal saja, bisa diajukan kabupaten/kota, tetapi atas persetujuan gubernur," kata dia.

Seperti diketahui, salah satu pengembangan pariwisata di Jawa Timur yang termasuk di dalam Perpres nomor 80 tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi Jatim adalah pembangunan kereta gantung. Ada dua kereta gantung yang masuk proyek prioritas.

Kereta gantung di Kota Batu dan Kereta Gantung Puncak Penanjakan-Kawah Bromo. Estimasi investasinya masing-masing Rp300 miliar dan Rp350 miliar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement