Kamis 23 Jan 2020 01:46 WIB

Kurangi Sampah dengan Ekonomi Sirkular

Konsep Ekonomi Sirkular adalah make, use, and return.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Esthi Maharani
Salah satu cara mengatasi sampah di Labuan Bajo dengan model ekonomi sirkular dimana sampah plastik akan diolah menjadi bahan baku.
Foto: Istimewa
Salah satu cara mengatasi sampah di Labuan Bajo dengan model ekonomi sirkular dimana sampah plastik akan diolah menjadi bahan baku.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- SCG Indonesia mengkampanyekan konsep ekonomi sirkular untuk membantu pengurangan sampah dari material sisa kegiatan produksi barang oleh industri. Ekonomi sirkular diyakini akan membantu Indonesia untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun 2030 mendatang.

Presiden Direktur SCG Indonesia, Pathama Sirikul, menuturkan bahwa Indonesia sebagai salah satu negara terkuat dari sisi ekonomi dan politik sangat strategis untuk mempraktekkan ekonomi sirkular.

"Konsepnya adalah make, use, and return. Jadi dari kita membuat produk, menggunakan itu, dan mendaur ulang kembali untuk bisa digunakan," kata Pathama di Jakarta, Rabu (22/1). 

Ia mengatakan, kegiatan ekonomi konvensional yang saat ini ada lebih bersifat linier, yakni segala kegiatan produksi menghasilkan sampah dan limbah. Hal itu jelas membahayakan lingkungan, termasuk sektor pariwisata. Pada konsen ekonomi sirkular, semua bahan yang digunakan berputar sehingga hasil produksi dioptimalkan dan jumlah sampah ditekan.

"Kita tahu, publik belum begitu paham soal ekonomi sirkular, jadi ini harus bisa dijelaskan lebih baik ke publik," ujarnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Bidang Koordinasi SDM, Sainstek, dan Budaya, Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Nani Hendiarti menjelaskan, konsep ekonomi sirkular diperlukan untuk diterapkan bagi setiap industri. Pasalnya, pengelolaan sampah secara nasional hingga saat ini baru menyentuh 67 persen dari sampah yang ada.

"Indonesia perlu ini, karena sampah masih ada di mana-mana. Tugas pemerintah adalah membuat kebijakan yang berdasar sehingga kita bisa benar-benar menguranginya," tutur Nani.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement