Jumat 17 Jan 2020 21:37 WIB

Abrasi Ancam Rumah Nelayan di Pulau Ambo Sulbar

Kondisi tempat rumah sangat mengkhawatirkan dan tidak aman ditempati.

Perahu nelayan melintas di sekitar rumah yang rusak dan ditinggalkan penghuninya akibat abrasi di pesisir Sayung, Demak, Jawa Tengah, Kamis (7/11/2019).
Foto: Antara/Aji Styawan
Perahu nelayan melintas di sekitar rumah yang rusak dan ditinggalkan penghuninya akibat abrasi di pesisir Sayung, Demak, Jawa Tengah, Kamis (7/11/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, MAMUJU -- Sejumlah 103 rumah warga di Pulau Ambo, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, terancam abrasi. Munur, salah seorang warga di Pulau Ambo, Kecamatan Balabalakang, ketika dihubungi dari Mamuju, Jumat (17/1) mengatakan sebagian rumah warga di kawasan itu sangat mengkhawatirkan dan tidak aman untuk ditempati. Karena sudah berada persis di bibir pantai.

"Abrasi sudah berlangsung sejak 2009 dan sekitar 65 meter dari bibir pantai sudah terkikis oleh air laut. Aapabila tidak segera diantisipasi maka garis pantai akan semakin jauh terkikis," kata Munir.

Baca Juga

Ia menyatakan, saat terjadi cuaca ekstrem pada 11 Januari 2020, ada sekitar 10 rumah warga di Pulau Ambo diterjang gelombang tinggi. Warga terpaksa mengungsi ke rumah warga lainnya yang lebih aman.

"Walaupun tidak ada rumah yang rusak, tetapi kami khawatir sebab air laut sudah berada persis di kawasan permukiman sehingga warga mengungsi ke rumah warga lainnya yang lebih aman," tuturnya.

Abrasi kata Munir, terjadi di bagian Barat Pulau Ambo. Akibat abrasi tersebut, satu lapis kawasan permukiman ditinggalkan karena rumah-rumah warga sudah berada persis di bibir pantai.

"Di bagian Barat, satu lapisan permukiman sudah tidak bisa dihuni dan warga sudah pindah karena kondisinya sangat berbahaya. Tapi, bangunan yang sudah permanen termasuk satu tempat ibadah tidak bisa dipindahkan dan terpaksa dibiarkan rusak," tuturnya.

Ada juga rumah yang tertimbun pasir setinggi dua meter sehingga rawan dan sangat berbahaya jika ditempati Saat ini warga hanya membuat tanggul sederhana, yakni dengan memasang karung berisi pasir.

Warga berharap bantuan pemerintah minimal membuat tanggul penahan ombak. "Sejauh ini belum ada bantuan. Kami hanya berharap bantuan pembuatan tanggul yang lebih permanen, minimal batu gajah untuk menahan hempasan gelombang sehingga dapat meminimalisir abrasi," ujar Munir.

Pulau Ambo merupakan salah satu pulau dari kepulauan Balabalakang Kecamatan Balabalakang, Kabupaten Mamuju. Ibu kota Kecamatan Balabalakang berada di Pulau Salissingan yang berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Timur.

"Kalau dari Pulau Salissingan ke pulau terdekat, yakni di wilayah Kalimantan dapat ditempuh sekitar 2 jam, sementara jarak tempuh dari Pulau Ambo ke ibu kota Kecamatan Balabalakang di Pulau Salissingan sekitar 5 jam. Kalau dari Kabupaten Mamuju ke Salissingan ditempuh sehari penuh. Warga di Pulau Ambo sekitar 130 Kepala Keluarga (KK)," kataMunir.

Sementara, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamuju Muhammad Ali Rachman, ketika dikonfirmasi Jumat malam mengatakan abrasi yang terjadi di Pulau Ambo tersebut sudah disampaikan ke Bupati Mamuju. "Terkait hal itu, sudah kami sampaikan ke pimpinan dan kami akan segera melihat langsung ke sana (Pulau Ambo). Sementara, terkait pembangunan tanggul penahan abrasi, itu kewenangan Balai PUPR Mamuju," kata Muhammad Ali Rachman.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement