Jumat 17 Jan 2020 00:11 WIB

Pemerintah Harus Punya Pengolahan Sampah Sendiri

Peneliti sebut pemerintah kabupaten dan kota di DIY harus punya pengolahan sampah

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Christiyaningsih
Sejumlah sapi digembalakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta.  Peneliti mengatakan pemerintah harus punya pengolahan sampah sendiri.
Foto: Antara/Hendra Nurdiyansyah
Sejumlah sapi digembalakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta. Peneliti mengatakan pemerintah harus punya pengolahan sampah sendiri.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Peneliti Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma (PSL-USD) Sulistyono mengatakan harus ada upaya untuk menyelesaikan overload atau kelebihan kapasitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Bantul saat ini. Menurutnya, selama ini sampah yang ada di TPA Piyungan hanya ditumpuk dan tidak ada upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Pemerintah baik kabupaten maupun kota di DIY harus punya pemilahan dan pengolahan sampah sendiri," katanya belum lama ini.

Baca Juga

TPA Piyungan menerima sampah dari tiga daerah di DIY yakni Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, dan Kota Yogyakarta. Ia mengatakan, tidak adanya pemilahan dan pengolahan sampah yang baik selama ini yang menyebabkan TPA Piyungan menjadi overload.

Padahal, dua upaya ini sangat berpengaruh untuk mengurangi overload di Piyungan. Bahkan, produksi sampah dari masing-masing daerah dapat diminimalisasi.

"Masalahnya sampah hanya sekadar ditumpuk. Jadi tidak ada upaya untuk dibuat menjadi produk lain. Misalnya menjadi kompos kalau itu organik. Kalau non-organik itu bisa dipilah. Plastik misalnya bisa dikumpulkan bisa diolah menjadi biji plastik," jelasnya.

Namun, untuk pemilahan dan pengolahan ini tentunya menjadi kewenangan masing-masing kabupaten dan kota di DIY. Untuk itu, Sulistyono menyarankan agar pemerintah kabupaten dan kota memilah dan mengolah sampahnya sendiri.

Sebab, saat ini belum ada upaya dari masing-masing kabupaten dan kota yang menyalurkan sampahnya di TPA Piyungan untuk melakukan upaya lebih. Dengan demikian sampah terus menumpuk di Piyungan hingga akhirnya overload selama bertahun-tahun

"Sampahnya juga berasal dari penduduk lokalnya. Pernah kejadian Piyungan diblokir karena sampahnya berasal dari luar dan sampah sudah terlalu banyak. Tidak tahu yang harus dilakukan dan hanya sekadar ditumpuk. Upaya seperti itu belum ada, sehingga semakin banyak jumlahnya," ujarnya.

Jika dibiarkan terus-menerus dan tidak ada solusi yang dilakukan, kata Sulistyono, akan berdampak bagi lingkungan sekitar TPA Piyungan. Menurutnya, dapat terjadi pencemaran lingkungan yang mana resapan sampah yang masuk ke sistem air dalam tanah dapat menyebabkan pencemaran air.

"Dulu juga pernah kejadian di (TPST) Bantar Gebang sampai meledak karena gas metan yang menumpuk di situ tidak bisa keluar sehingga seperti ledakan besar," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY Sutarto mengatakan overload di TPA Piyungan sudah terjadi sejak 2014 lalu. Menurutnya, sampah yang diterima TP Piyungan mencapai 580 ton per harinya.

"Hari-hari biasanya sampah yang masuk 560 sampai 580 ton per hari. Di samping karena jumlahnya lebih besar, memang beratnya sampah itu karena musim hujam yang juga besar," kata Sutarto kepada Republika, belum lama ini.

Saat ini pun, pihaknya memaksimalkan lahan yang ada di TPA Piyungan tersebut. "Memang sebenarnya overload sudah sejak 2014. Tapi kami sebagai penanggungjawab pengelola sampah yang ada di sana, berusaha semaksimal mungkin untuk membuat ruang-ruang yang masih memungkinkan untuk bisa dibuangi sampah," tambah Sutarto.

Selain membuat ruang yang masih memungkinkan, sampah yang menggunung juga diratakan. Dengan demikian dapat memberi ruang yang lebih besar untuk penampungan sampah di TPA Piyungan.

"Kami berusaha semaksimal mungkin, sampah-sampah yang lebih banyak terkonsentrasi di tempat tertentu itu kemudian kami ratakan istilahnya. Kami dorong dan kemudian mencari celah untuk pembuangan sampah di bulan-bulan berikutnya," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement