Kamis 09 Jan 2020 23:38 WIB

Polresto Depok: Ada 87 Kejadian Banjir dan Longsor di Depok

Jumlah warga terdampak akibat banjir dan longsor di Depok mencapai 1.306 KK

Rep: Rusdy Nurdiansyah/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Anggota Kepolisian mengevakuasi warga terdampak banjir di Perumahaan Bukit Cengkeh II, Depok, Jawa Barat, Rabu (1/1/2020).
Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha
Anggota Kepolisian mengevakuasi warga terdampak banjir di Perumahaan Bukit Cengkeh II, Depok, Jawa Barat, Rabu (1/1/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK--Polres Metro Depok melakukan koordinasi terkait tanggap bencana yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. Dari hasil evaluasi diketahui ada 87 kejadian banjir dan tanah longsor yang berdampak terhadap 29 kelurahan yang tersebar di 11 kecamatan.

"Jumlah warga yang terdampak ada 1.306 KK, dengan jumlah jiwa sekitar 2.976. Total kerugian mencapai kurang lebih RP 8 Miliar. Kemudian yang meninggal ada tiga orang," ujar Kapolres Metro Depok Kombes Pol Azis Andriansyah di Mapolresta Depok Kamis (9/1).

Dia mengungkapkan, langkah-langkah yang dilakukan saat terjadi bencana oleh kepolisian, TNI dan aparat Pemkot Depok yang tergabung dalam Tim Tanggap Bencana yaitu melakukan penyelamatan dan pertolongan darurat, juga mengevakuasi korban.

Sedangkan penanganan pasca bencana banjir yakni menyediakan air bersih, sanitasi, pangan, sandang, pelayanan kesehatan. tak hanya itu, rehabilitasi atau perbaikan lingkungan dan perbantuan perbaikan rumah warga yang terdampak bencana juga telah dilakukan. "Pemulihan sosial dan lingkungan, perbaikan layanan publik juga tidak luput dari pengawasan kami," terang Azis.

Selain itu dijelaskannya pemetaan bencana juga berdampak pada rekonstruksi pada pembangunan kembali sarana dan prasarana, dimana diberikan penambahan dalam penggunaan peralatan tahan bencana. "Kita juga fokus dalam penampungan, atau tempat hunian sementara," ucap Azis.

Menurut Azis, selanjutnya langkah dan upaya pasca bencana yang masih di lanjutkan oleh Tim Tanggap Bencana adalah, memperketat pengawasan di titik-titik lokasi dan rawan bencana. Pemetaan daerah rawan bencana dan evaluasi situasi tanggap bencana menjadi agenda rutin sepanjang diterapkannya waktu tanggap bencana.

"Koordinasi lanjutan antar organisasi perangkat daerah (OPD) dan kecamatan terus terjalin, terutama dalam upaya pencegahan dan penyuluhan bencana," terangnya.

Saat ini, tinggi muka air sungai Ciliwung di Bendungan Katulampa, Kota Bogor, naik drastis pada Kamis (9/1).

Volume air naik cepat dari 40 sentimeter hingga 80 sentimeter dalam kurun waktu 30 menit. "Tentunya kondisi tersebut, menjadi acuan bagi masyarakat agar berhati-hati terhadap bencana banjir," harap Azis.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement