Jumat 03 Jan 2020 14:22 WIB

Trauma Anak-Anak Korban Banjir Dipulihkan Lewat Menggambar

Tim trauma healing Polda Metro Jaya ajak anak-anak korban banjir menggambar

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih
Tim trauma healing Polda Metro Jaya ajak anak-anak korban banjir menggambar sebagai trauma healing. Ilustrasi.
Foto: Antara/M Ibnu Chazar
Tim trauma healing Polda Metro Jaya ajak anak-anak korban banjir menggambar sebagai trauma healing. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polda Metro Jaya menerjunkan tim Trauma Healing untuk memulihkan kondisi psikis anak-anak korban banjir di posko pengungsian Universitas Borobudur, Jakarta Timur. Tim mengajak anak-anak mengisi waktu dengan kegiatan menggambar bersama.

"Kita lakukan 'trauma healing' bagi korban banjir. Fokus kita pada anak-anak yang rentan terkena masalah psikologis karena musibah ini. Kita berikan permainan dan aktifitas menyenangkan," ujar Kabag Psikologi Biro SDM Polda Metro Jaya, AKBP R. Sajarwo Saputro, Jumat (3/1).

Baca Juga

Di lokasi pengungsian Universitas Borobudur, Jakarta Timur, terdapat puluhan anak-anak yang menjadi korban banjir akibat meluapnya Kali Sunter pada Rabu (1/1) dini hari. Menurut Sajarwo, kegiatan menggambar ini untuk mengalihkan perhatian anak-anak agar cepat melupakan kejadian yang mereka alami.

Mereka juga diajak bermain permainan sederhana. Nampak raut keceriaan tergambar dari wajah mereka.

"Personel kita ada bagian psikologi di bawah biro sumber daya manusia. Kita terjunkan 10 personel kemudian ada bergabung juga rekan-rekan kita di Mabes Polri dari biro psikologi ada empat orang, 15 orang totalnya," kata dia.

Selain mengajak bermain dan menggambar, terselip upaya memotivasi anak-anak agar mereka tetap semangat serta tahu apa yang mesti dilakukan apabila hujan deras dan banjir kembali terjadi. Tak hanya bagi anak-anak, tim Trauma Healing juga menyasar orang dewasa yang merasa terpukul akibat banjir yang melanda wilayahnya.

Pendekatannya pun dilakukan berbeda. Para korban banjir diajak untuk mencurahkan segala keluh kesah yang dialaminya.

"Yang sedih, ada yang kehilangan keluarganya, kehilangan harta benda, kebanyakan kaget, karena puluhan tahun tidak pernah kebanjiran tiba-tiba kena banjir dan tidak bisa menyelamatkan harta benda," papar Sajarwo.

"Kita dekati ajak ngomong. Kita sapa ajak ngobrol. Nanti mereka akan curhat sendiri. Dari situlah kemudian kita dengarkan saja, kita berikan semangat, berikan motivasi," kata dia.

Wilayah Kelurahan Cipinang Melayu menjadi salah satu daerah yang paling parah terkena banjir. Di posko pengungsian Universitas Borobudur terdapat 926 korban jiwa dengan rincian 467 laki-laki dan 259 perempuan. Di antara ratusan itu, 51 orang merupakan lansia, 114 balita, dan delapan ibu hamil.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement