Kamis 19 Dec 2019 18:45 WIB

Identitas Palembang Sebagai Kota Pusaka Perlu Diperkuat

Palembang belum maksimal menonjolkan identitas kota tertua di Indonesia

Jembatan Ampera Palembang, Sumsel.
Foto: Antara
Jembatan Ampera Palembang, Sumsel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Identitas Palembang sebagai kota pusaka dan budaya perlu diperkuat. Caranya dengan mengembangkan kekayaan intelektual atau Intellectual Property sebagai potensi utama pariwisata.

Demikian diungkap Pakar Manajemen Urban dari Waseda University Tokyo, Prof. Riela Provi Drianda. Ia menilai Palembang belum maksimal menonjolkan identitas kota tertua di Indonesia (1336 tahun) karena masih mengabaikan warisan budaya.

"Kota Palembang telah mengalami perkembangan pesat dan modern, namun pusaka budaya serta situs-situs sejarah masih tidak diperhatikan maksimal, padahal itu bisa dijadikan potensi utama pariwisata," ujar Prof. Riela Provi Drianda di Palembang, Kamis (19/12).

Menurut dia Palembang perlu mengikuti kota-kota tua di dunia yang sudah mengutamakan potensi budaya dengan pengembangan kekayaan intelektual seperti membangun ruang-ruang publik bergaya urban dan mengembangkan museum berbasis virtual.

Kota-kota maju menjadikan museum sebagai wajah utama perkotaan, kata dia, pemerintahnya menjadikan museum sebagai sarana interaksi masyarakat yang modern dan menarik, konsep ini dapat diaplikasikan jika Palembang ingin menyasar wisatawan mancanegara.

"Turis mancanegara pasti mendatangi museum atau situs sejarah kalau berkunjung ke suatu kota, bukan berkunjung ke mall, perilaku ini harusnya menguntungkan bagi Palembang karena punya banyak situs sejarah," tambahnya.

Jika Pemkot Palembang berhasil mengembangkan museum menjadi tempat interaksi masyarakat yang mengadopsi konsep urban, modern dan kuat, ia yakin semakin banyak turis akan datang.

Namun ia mengamati masyarakat Palembang pada umumnya masih menganggap museum sebagai hal kuno, tidak menarik dan tidak penting, padahal jika tidak ada pengembangan museum atau situs budaya maka dikhawatirkan sejarah-budaya akan semakin tenggelam.

Ia menilai, mengadakan berbagai festival yang bersifat seremoni dirasa kurang efektif dalam mewarisi sejarah dan budaya, bahkan untuk festival-festival tertentu penyelenggaraannya cenderung menghabiskan anggaran tanpa pasti tujuannya sampai.

"Perkuat identitas lokalnya dahulu, kemudian kembangkan kekayaan intelektual atau ruang-ruang publik, baru diperkuat dengan festival atau seremoni kebudayaan, dan yang terpenting harus melibatkan generasi milenial yang daya inovasinya lebih tinggi," jelasRiela.

Ia pun mendukung penuh rencana pengembangan museum berbasis virtual program digitalisasi budaya yang diinisiasi Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI) Sumsel di Kota Palembang.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement