Selasa 17 Dec 2019 06:29 WIB

Wayang Cepot yang Laris Manis Hingga ke Belanda

Cepot adalah karakter wayang golek yang paling laku.

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Karta Raharja Ucu
Dede yang akrab disapa Dede Wayang tengah memproduksi wayang mainan cepot dan yang lainnya di rumahnya di Kampung Babakan Garut, Desa Mekarsari, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (12/5).
Foto: Republika/Fauzi Ridwan
Dede yang akrab disapa Dede Wayang tengah memproduksi wayang mainan cepot dan yang lainnya di rumahnya di Kampung Babakan Garut, Desa Mekarsari, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (12/5).

REPUBLIKA.CO.ID, Sudah sekitar 40 tahun Dede menjadi perajin yang memproduksi berbagai jenis wayang. Kecintaannya kepada wayang sudah tertanam sejak ia masih kelas tiga sekolah dasar. Wayang buatan Dede dikirim ke berbagai daerah di Indonesia hingga Belanda.

Dede merupakan generasi kedua keluarganya yang menjadi perajin wayang. Sampai namanya pun dikenal dengan sebutan Dede Wayang. Ia menjadikan rumahnya di Kampung Babakan Garut, Desa Mekar sari, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, sebagai tempat produksi. "Di Padalarang tidak ada lagi yang buat wayang mainan kayak ini, kecuali bapak," ujar dia, saat ditemui Republika beberapa waktu lalu.

Ada beberapa wayang mainan yang dibuat Dede, utamanya wayang karakter si Cepot dan Dewi Shinta. Wayang ini dibuat dari bahan kayu albasia. Karena relatif langka di Padalarang, ia mesti mencari bahan baku sampai ke berbagai tempat. Kayu ini kemudian diolah secara manual menggunakan pisau ukir, hingga menjadi wayang.

photo
Dede yang akrab disapa Dede Wayang tengah memproduksi wayang mainan cepot dan yang lainnya di rumahnya di Kampung Babakan Garut, Desa Mekarsari, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (12/5).

Wayang karakter Cepot disebut paling diminati. Karakter anak Semar ini memang populer dan menjadi salah satu ikon wayang golek. Terlebih, wayang Cepot buatan Dede ini sudah ditambahi kreasi, yaitu mempunyai mulut yang bisa membuka atau mangap. Wayang Cepot ini dijual dengan harga satuan berkisar Rp 30 ribu.

"Yang lakunya Cepot. Perbandingannya, misal Cepot terjual 50 buah, sedangkan wayang lainnya cuma satu," kata dia. Selain membuat wayang sendiri, Dede juga sering menerima kiriman dari perajin lain untuk melakukan penyempurnaan.

Menurut dia, kiriman ini datang dari perajin yang mayoritasnya merupakan kerabat atau warga sekitar yang pernah dibimbingnya dulu dalam membuat wayang. "Biasa menerima wayang Cepot yang masih buligir (belum diberi pakaian) atau mentahnya. Sekitar 100 atau 200 buah dari perajin lainnya. Terus sama ba pak dikasih pakaiannya," ujar Dede.

Kebanyakan wayang yang diproduksi Dede ditujukan untuk mainan anak-anak. Namun, ia juga sesekali menerima pesanan wayang yang biasa digunakan untuk kebutuhan pertunjukan, seperti yang dibuat di Jelekong, Baleendah.

Wayang buatan Dede sudah tersebar ke sejumlah daerah. Bahkan, kata dia, saat masih melakukan produksi di kawasan Cipatat, wayang mainan buatannya sempat dikirim ke Belanda melalui jaringan di Jakarta. Seingatnya, pengiriman wayang itu dilakukan pada periode 1995-2000.

Wayang mainan ini juga ada di tem pat-tempat wisata. "Tempat wisata dari seluruh Jawa Barat, seperti di Pangandaran, Cirebon, belinya di sini. Termasuk dari Jakarta, termasuk Taman Mini Indonesia Indah (TMII), banyak yang datang ke sini," ujar Dede.

Dede berharap bisa terus berkreasi dan berinovasi agar wayang buatannya ini terus diminati. Dalam menjalankan usahanya saat ini, Dede dibantu juga oleh ke dua anaknya. Salah satunya Asep Suryadi Prabudita.

Asep mengatakan, dalam sebulan bisa diproduksi sekitar 2.000 buat wayang karakter Cepot. Saat penjualan ramai, kata dia, omzet yang didapat bisa mencapai sekitar Rp 40 per bulan. Adapun omzet normal minimal sekitar Rp 20 juta.

"Peminatnya pengunjung di tempat wisata. Saya sendiri fokus di bisnis ini ingin menambah maju bisnis wayang," kata dia.

photo
Wayang Golek.

Selama ini, Asep menjelaskan, produk wayang biasanya dijual ke bandar-bandar di sejumlah kawasan, seperti Bandung, Jakarta, dan Pangandaran. Wayang juga di tawarkan melalui sarana media sosial Facebook. Ia mengaku belum mencoba menawarkan wayang melalui situs jual beli atau market place.

Asep menilai prospek bisnis kerajinan wayang ini potensial. Ia pun berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap para perajin. Misalnya, diikutkan dalam pameran-pameran yang digelar pemerintah. "Dulu pernah ada dari desa melihat proses produksi, tapi setelah itu enggak ada tindak lanjut," ujar Asep.

Bagi Asep, perhatian dari pemerintah ter hadap perajin ini dibutuhkan. Sebab, pembuatan wayang ini bukan semata uru san ekonomi, tapi ikut juga dalam melestarikan budaya dan kesenian tradisional. "Ke depan ingin ada perhatian dari pemerintah. Ini kan soal budaya Sunda," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement