Jumat 13 Dec 2019 06:19 WIB

Kelapa Village Masih Sepi Penghuni

Persyaratan bank yang membuat banyaknya peminat tidak memenuhi syarat.

Rep: Amri Amrullah/Umi Soliha/ Red: Bilal Ramadhan
Pekerja melintasi pemakaman dengan latar belakang proyek pembangunan Rumah Susun Milik (Rusunami) Klapa Village di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta, Kamis (11/4).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pekerja melintasi pemakaman dengan latar belakang proyek pembangunan Rumah Susun Milik (Rusunami) Klapa Village di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta, Kamis (11/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program hunian rusun Solusi Rumah Warga (Samawa) yang telah diluncurkan Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan sejak beberapa waktu lalu dengan DP 0 persen di Kelapa Village, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, masih sepi penghuni.

Sebagaimana dalam Pergub Nomor 104 Tahun 2018 tentang pemberian fasilitas pembiayaan pembelian rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, hunian ini memiliki kapastitas sebanyak 780 unit yang terdiri atas 21 lantai di mana penghuni mengisi di lantai dua hingga 21.

Adapun pada area lobby dan lantai dua, dari pantauan Republika pada Selasa (10/12), masih sedikit penghuni yang terlihat berlalu-lalang untuk beraktivitas. Juga, terlihat beberapa sekuriti tengah berjaga di lobby dan area lain. Namun, sampai saat ini, pelayanan pendaftaran masih dibuka.

Adapun salah satu penghuni lantai dua nomor 0231 saat dijumpai di kediamannya, Herawati Alamsyah, mengaku sudah mempati huniannya selama hampir dua setengah bulan bersama tiga orang keluarganya, yaitu anak dan suaminya dengan tipe dua kamar.

Herawati mengatakan, masih belum penuhnya penghuni rusun disebabkan Pemprov DKI Jakarta melakukan penyaringan secara selektif dan tidak diperuntukkan bagi sembarangan orang. Anaknya yang telah melakukan proses akad kredit, Afrida Harahap, telah memenuhi syarat yang diajukan, yaitu memiliki KTP domisili Jakarta, belum memiliki rumah dan memiliki komponen penghasilan minimum Rp 4 juta dan maksimal Rp 7 juta.

"Jadi, sebelumnya saya numpang di rumah saudara. Terus anak saya yang namanya Afrida Harahap yang telah melakukan akad kredit. Alhamdulillah, dari ribuan pendaftar, akhirnya bisa lolos persyaratannya," tutur Herawati.

Keluarganya mencicil hunian tersebut dengan jangka waktu 17 tahun dengan angsuran sekitar Rp 2,5 juta untuk tipe dua kamar. Menurutnya, dengan DP 0 rupiah, fasilitas yang disediakan sangat memadai.

"Benar adanya ini bukan omong kosong dengan DP 0 rupiah kebanyakan masyarakat masih tidak percaya dan masih nyaman di kawasan kompleks untuk menyewa karena terbiasa. Kalau untuk sekelas rusun dengan DP 0 rupiah biasanya kan rusun-rusun lain cuma pakai tangga dan biasa saja. Terus ini sudah ada lift sudah bisa dibilang semiapartemen," ujar dia.

Calon pendaftar yang mendatangi Samawa 0 Rupiah Kelapa Village Bambang Antoro juga mendatangi bagian informasi. Pengemudi ojek daring ini mengaku tidak mengetahui informasi seputar program rumah tersebut, tapi hanya mendengar dari teman-temannya.

"Awalnya, saya enggak tahu ada rumah DP 0 Rupiah. Kirain saya karena dari luar kayak apartemen, kirain tuh buat yang berpenghasilan tinggi. Tapi, karena diperuntukkan warga domisili Jakarta, terus bisa diangsur, saya berminat punya rumah,” ujar Bambang.

Calon pendaftar lainnya, Yulia Isneni, mengatakan, ia tertarik untuk menghuni karena berlokasi strategis berada diwilayah Jakarta Timur. Selain itu, Yulia mengaku, selama ini hanya menyewa hunian dan  berniat memiliki tempat tinggal tetap.

“Tapi, saya khawatir tidak memenuhi syarat karena cicilannya kan jangka waktu lama. Padahal, sebentar lagi saya pensiun,” ujar Yulia.

Syarat Bank

Kepala Dinas Perumahan DKI Jakarta Kelik Indriyanto mengatakan, salah satu faktor yang membuat tingkat hunian di Klapa Village masih rendah adalah beberapa persyaratan dari Bank DKI yang membuat banyak calon penghuni tidak memenuhi syarat lolos mengambil rumah DP 0 Rupiah. "Padahal, peminatnya banyak, tapi tidak memenuhi syarat," kata Kelik, Kamis (12/12).

Dari 780 rumah hunian di Kelapa Village, lanjut dia, baru sekitar 100 unit yang terisi. Ia menyebutkan, biasanya salah satu yang memberatkan calon penghuni, yaitu kemampuan membayar kredit mereka. "Kalau boleh saya bilang, peminat ada yang punya kredit lain, misal, elektronik, motor, mungkin ketika pihak bank mengecek, mereka enggak masuk," ujar dia.

Sedangkan, untuk warga yang ingin mengambil rumah DP 0 Rupiah, namun tidak bisa membayar cicilan karena terganjal pembayaran bulanan ada opsi lain. "Untuk pihak yang mau mengambil, namun tidak mampu mencicil, silakan bergabung ke rusunawa," kata dia menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement