Kamis 12 Dec 2019 13:23 WIB

800 Ruang Kelas SD di Tasikmalaya Rusak

Perbaikan sekolah rusak di Tasikmalaya sering kali tak tepat sasaran.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Ani Nursalikah
800 Ruang Kelas SD di Tasikmalaya Rusak. Foto ilustrasi ruang kelas sekolah rusak di Tasikmalaya.
Foto: Republika/Rizky Suryarandika
800 Ruang Kelas SD di Tasikmalaya Rusak. Foto ilustrasi ruang kelas sekolah rusak di Tasikmalaya.

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Dinas Pendidikan menyatakan, sekitar 800 ruang kelas dari 1.086 sekolah dasar (SD) di Kabupaten Tasikmalaya mengalami kerusakan. Kerusakan bervariasi, mulai dari rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat. Kerusakan itu tersebar hampir di seluruh wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Kepala Bidang SD, Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya Ahmad Jawari mengatakan sudah menginstruksikan UPTD Pendidikan wilayah untuk melakukan verifikasi ke sekolah yang melaporkan kerusakan. Data verifikasi nantinya akan diserahkan ke pemerintah pusat untuk direhabilitasi.

Baca Juga

"Nanti dibuat skala prioritas secara manual untuk perbaikan," kata dia, saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (12/12).

Ia menjelaskan, selama ini perbaikan sekolah selalu dianggarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui dana alokasi khusus (DAK). Rehabilitasi sekolah didasari data yang dimasukkan oleh sekolah melalui laman Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Namun, realitasnya di lapangan rehabilitasi sering kali tak tepat sasaran. Artinya, sekolah yang diperbaiki justru yang bukan prioritas untuk direhabilitasi. Perbaikan hanya didasarkan pada Dapodik.

"Kita sudah sampaikan itu ke Kememdikbud. Namun untuk perbaikan, Kemendikbud mengambil dari Dapodik. Jadi berdasarkan laporan secara online dari sekolah langsung," kata dia.

Masalahnya, kata dia, jika perbaikan ruang kelas rusak hanya didasarkan pada Dapodik, tak semua operator sekolah memasukkan data dengan benar. Menurut dia, operator sekolah terkadang tak bisa mengidentifikasi sekolah rusak ringan, sedang, atau berat.

"Itu kelemahan dari pusat, tidak melihat data faktual. Masyarakat kan tahunya ada sekolah rusak dan tidak diperbaiki," kata dia.

Jawari menambahkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya diarahkan untuk mengajukan rehabilitasi sekolah ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), untuk sekolah yang belum diperbaiki melalui Dapodik. Nantinya, Kementerian PUPR akan melakukan verifikasi langsung ke lapangan.

"Kita sudah berusaha ke PUPR. Mudah-mudahan bisa dibenahi dengan cepat," kata dia.

Ia menyebut, berdasarkan data terakhir, ruang kelas rusak di Kabupaten Tasikmalaya sekitar 800 buah. Kerusakan itu disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah bencana alam.

Menghadapi musim hujan, Jawari mengatakan, Dinas Pendidikan telah jauh hari melakukan sosialisasi dan imbauan kepada sekolah, khususnya yang berada di wilayah rawan bencana. Ia meminta sekolah siap siaga mengevakuasi siswa jika intensitas hujan sudah mulai tinggi dan ruang kelas dianggap sudah tidak aman.

"Sekolah yang dianggap rawan, kalau suasana sudah terus hujan belajarnya dipindahkan. Bisa juga meminjam madrasah, dengan memberi laporan supaya kita bisa beri rekomendasi," kata dia.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Wawan R Efendi mengatakan, juga telah secara rutin melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar siap menghadapi bencana, khususnya sekolah yang berada di wilayah rawan bencana. Kegiatan itu dilakukan melalui program Sekolah Aman Bencana.

"Kita masuk memberikan sosialisasi dan pemahaman ke sekolah yang berada di zona merah. Dari anak itu, diharapkan mereka menyebarkan informasi itu," kata dia.

Ia manambahkan, BPBD juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk antisipasi bencana terjadi di sekolah. Jika diperlukan, BPBD juga siap membantu evakuasi proses kegiatan belajar-mengajar para siswa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement