Rabu 20 Nov 2019 20:31 WIB

BPPTKG: Potensi Letusan Kecil Merapi Masih Ada

Gunung Merapi memiliki tipe erupsi yang sangat lengkap dan kaya.

Letusan Gunung Merapi terlihat dari bungker Kaliadem, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta.
Foto: Antara/Rudi
Letusan Gunung Merapi terlihat dari bungker Kaliadem, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Potensi letusan kecil Gunung Merapi di wilayah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta masih ada. Sebab, Gunung Merapi memiliki tip erupsi yang lengkap.

"Erupsi itu akan berulang terus, Gunung Merapi ini karakternya sangat lengkap dari yang erupsi kecil seperti sekarang sampai erupsi yang besar," kata kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida pada sosialisasi kondisi Gunung Merapi di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Rabu (20/11).

Baca Juga

Ia menyebutkan Gunung Merapi kaya tipe erupsinya, erupsi 2006 berbeda dengan 2010 dan yang sekarang erupsinya juga berbeda. Menurut dia, tipe letusan Merapi, antara lain freatik yang terjadi pada awal 2018, 2012, dan 2014, kemudian letusan besar namanya suplinian, fulkanian, kemudian yang akhir-akhir ini eksplosif tetapi kecil.

Ia menuturkan letusan kecil-kecil seperti embusan kemarin tidak bisa dideteksi karena kecilnya, yaitu dari data-data seismograf dari data deformasi tidak kelihatan. Pascaletusan pada 17 November 2019, aktivitasnya sekarang sudah turun tetapi masih ada potensi letusan lagi karena volkanotektoniknya masih ada.

Hal itu ujar dia, menunjukkan adanya suplai dari dalam Gunung Merapi. Ia menuturkan Merapi yang paling berbahaya awan panasnya maka harus menjadi kewaspadaan.

"Konsentrasi kita 'wedus gembelnya' itu, sebarannya ke mana sebagian besar dari arah selatan sampai ke utara. Kalau sekarang sebarannya ke arah selatan," katanya.

Ia mengimbau masyarakat mengikuti terus informasi dari BPPTKG, sedangkan rekomendasi BPPTKG saat ini masih sama jarak tiga kilometer dari puncak tidak boleh ada aktivitas.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement