Jumat 08 Nov 2019 11:37 WIB

Kiprah Rohana Kudus, Wartawati yang Jadi Pahlawan Nasional

Rohana Kudus yang bergelar pahlawan nasional menempuh jalur otodidak.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Muhammad Hafil
Rohana Kudus
Foto: wikipedia
Rohana Kudus

 

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Febrian Fachri / Wartawan Republika.co.id

Baca Juga

 

Nama Rohana Kudus termasuk legenda dalam dunia pers terutama untuk dunia jurnalistik yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Rohana adalah perempuan cerdas yang lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Sejak kecil Rohana tak pernah mengenyam pendidikan formal.

Tapi tingkat intelegensi, ketegasan dan kegigihannya berjuang untuk perempuan diakui oleh dunia internasional di zaman kolonial Belanda. Rohana merupakan sosok yang gigih, berwawasan, dan kaya akan ide-ide cemerlang untuk mewujudkan cita-citanya untuk kaum perempuan. Salah satu media perjuangan Rohana adalah Soenting Melajoe. Koran yang ia dirikan bersama Mahyuddin Datuk Sutan Maharaja.

Rohana lahir dari pasangan Mohamad Rasjad Maharadja dan Kiam. Ayahnya Rasjad bekerja untuk pemerintah kolonial di kantor kejaksaan. Sosok ayahnya yang berpendidikan inilah yang menjadi modal bagi Rohana sejak kecil untuk tumbuh menjadi perempuan yang cerdas. Rohana lahir di Koto Gadang pada tahun 1884. Sampai berusia 17 tahun, Rohana yang sudah ditinggal ibu kandungnya, Kiam, sejak kecil selalu ikut ayahnya yang dinas di luar Koto Gadang tepatnya di Simpang Tanang Tolu, Kabupaten Pasaman. 

Di zaman itu, pendidikan menjadi suatu hal yang mahal. Apalagi untuk anak perempuan. Tapi Rasjad tak mau Rohana lahir dan tumbuh sebagai perempuan bodoh. Sejak balita, Rasjad mengajarkan Rohana membaca huruf latin dan Arab. Di mana ia selalu memberikan bahan-bahan bacaan kepada Rohana. Ketika baru berusia tujuh tahun, Rohana sudah menjadi pusat perhatian bagi teman-teman bermainnya karena ia pandai membacakan cerita.

Ketika Rohana sudah berusia 17 tahun, ia harus tingggal dengan sanak familinya di Koto Gadang karena ayahnya mulai dinas di Kota Medan Sumatra Utara.

Sebagai anak perempuan pertama dari enam bersaudara, Rohana menjadi sosok yang mandiri. Rohana remaja masih membiasakan diri untuk menarik perhatian dengan menawarkan cerita-cerita kepada anak-anak perempuan yang bahkan lebih tua dari dirinya. Di masa pertumbuhan sejak kecil sampai remaja, Rohana sudah mulai kritis terhadap kondisi perempuan di Koto Gadang.

“Rohana cilik tumbuh menjadi remaja putri cantik dengan cakrawala berpikir luas. Ia semakin paham kondisi perempuan di negerinya,” tulis Fitriyanti dalam buku Wartawan Perempuan Pertama Indonesia Rohana Kudus.

Rohana yang juga mendapatkan ilmu agama dari pengajian-pengajian Islam sejak kecil membuatnya  paham kalau sebenarnya agama Islam tidak pernah membenarkan pengekangan terhadap kaum perempuan. Karena itulah, tekad Rohana untuk memperjuangkan hak kaum perempuan di Koto Gadang dan Sumbar secara umumnya semakin bulat.

Roehana miris melihat perempuan di Minangkabau di zaman itu tidak boleh bebas keluar rumah seperti kaum laki-laki. Perempuan yang masih gadis hanya diizinkan belajar untuk urusan keperempuanan seperti memasak, menjahit, dan berdandan. Nantinya nasib mereka akan ditentukan oleh ninik mamak untuk dijodohkan dengan orang-orang di Koto Gadang.

Jadilah perempuan Koto Gadang yang dikenal berparas cantik, tapi identik dengan kebodohan. Perempuan di daerah itu dulu hanya jadi pemuas nafsu laki-laki terpandang dan pejabat-pejabat Belanda. Bagi kaum perempuan yang dari kalangan menengah ke bawah lebih miris.

Perempuan yang tak dilirik orang terpandang dan pejabat Belanda harus turut turun ke sawah dan ladang menjadi buruh kasar dengan upah yang rendah. Awalnya Rohana memperjuangkan kaum perempuan dengan mengajarkan keterampilan menjahit dan menenun disamping mengajarkan baca tulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Rohana mewadahi perempuan Koto Gadang  di Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) yang ia dirikan atas dukungan suaminya, Abdul Kuddus.

Bisnis kain tenun yang dijalankan Rohana di KAS mendapatkan respon yang baik dari pemerintah kolonial Belanda. Jadinya hasil kerajinan KAS menempus pasar Eropa.

Sementara untuk mendirikan Soenting Melajoe, Rohana mendapatkan jaringan internasional karena bisnis kain tenun. Dari situ ia semakin banyak mendapatkn lebih banyak lagi informasi tentang kemajuan kaum perempuan di Eropa. Ibarat meminum air laut, dahaga Roehana akan ilmu dan perjuangan tak pernah lepas. Setelah berdiskusi dengan suaminya Abdul Kuddus yang juga aktivis pergerakan, Rohana terpikir untuk mendirikan surat kabar. Tujuannya untuk menginpisrasi kaum perempuan di Sumbar dan Indonesia agar tak mau kalah dengan kaum laki-laki untuk menjadi insan terpelajar.

Keinginan Rohana untuk mendirikan surat kabar mendapat dukungan dari pimpinan Warta Berita Mahyuddin Datuk Sutan Maharajo. Surat kabar yangdidirikan Rohana bersama Dt. St Maharajo bernama Soenting Melajoe. Koran ini pertama kali terbit pada 10 Juli 1912. Sutan Maharajo menjadi pemimpin umum, Roehana menjadi pemimpin redaksi dan Zahara Ratna Djuita yang merupakan putri Dt Sutan Maharajo menjadi editor.

Setiap pekan, Rohana menulis minimal dua tulisan tentang pandangan terhadap kaum perempuan. Tulisan-tulisan Rohana menginspirasi kaum perempuan dari Minangkabau dan daerah lain untuk turut menyumbangkan tulisan. Pada awalnya Soenting Melajoe hanya memuat konten tentang perempuan. Tapi pada perkembangannya, surat kabar itu juga membuat isu-isu umum seperti politik, ekonomi dan kriminal.

“Tulisan Rohana menembus batas jarak, status sosial, agama, suku bangsa dan negara. Wawasannya semakin luas. Ia bahkan sampai mendorong agar kaum perempuan terjun untuk organisasi pergerakan dan percaturan politik," tulis Fitriyanti.

Wartawan senior Uni Zulfiani Lubis termasuk orang yang mengagumi sosok Rohana Kudus. Dia mengatakan Roehana adalah sosok yang komplet. Pintar, punya keberanian, dan tetap menjaga kodrat sebagai perempuan.

Uni menyebut Jasa Rohana Kudus sangat besar bagi kemajuan kaum perempuan di zaman kolonial sampai masa pergerakan. Tulisan-tulisan Rohana begitu tajam dan kritis terhadap diskriminasi terhadap kaum perempuan.

Uni berpandangan kalau kecerdasan Rohana didukung oleh budaya literasi tulis menulis yang memang populer di Sumatra Barat di abad ke 20. Sehingga Rohana mudah mendapatkan bahan bacaan setiap hari walaupun ia tak pernah mendapatkan penddikan formal.

“Kiprahnya lengkap. Tak hanya di dunia jurnalistik. Ia juga pandai dalam berwira usaha, paham dunia pendidikan. Padahal dia belajarnya autodidak,” kata Uni kepada.

Wartawan senior yang telah mendapatkan beberapa journalism fellowships termasuk dari East West Center, Hawaii University dan Eisenhower Fellowships di AS tahun 2011 itu berharap semangat berjuang seperti Rohana Kudus ini terus berlanjut sampai zaman sekarang. Jurnalis khususnya yang perempuan kata Uni jangan hanya jadi jurnalis pelapor berita. Tapi menjadi jurnalis yang dapat memperjuangkan seuatu sesuai dengan keilmuan yang mereka dalami di dunia pemberitaan.

Sayangnya sekarang ini kata Uni jurnalis perempuan sering mentok dalam berkarir dan berjuang di dunia jurnalistik karena harus membagi fokus untuk menjadi ibu rumah tangga. Misalnya kata Uni jurnalis perempuan konsern berjuang untuk advokasi kekerasan pada perempuan dan anak, lingkungan dan lain-lain.

“Sebenarnya bisa kok life yang seimbang dengan karir. Memang butuh stamina lebih,” ujar Uni.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement