Jumat 25 Oct 2019 18:58 WIB

Salahkah Desain Pesawat Boeing 737 MAX 8?

KNKT menyatakan hasil investigasi kecelakaan Lion Air bukan mencari siapa yang salah.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolanda
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memberikan keterangan pers hasil investigasi kecelakaan Lion Air JT 610 di Jakarta, Jumat (25/10/2019).
Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono memberikan keterangan pers hasil investigasi kecelakaan Lion Air JT 610 di Jakarta, Jumat (25/10/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyatakan hasil investigasi kecelakaan  pesawat Lion Air nomor registrasi PK-LQP yang jatuh pada penerbangan JT 610 dari Jakarta ke Pangkalpinang pada 29 Oktober 2018 tidak untuk mencari siapa yang salah. Laporan investigasi kecelakaan yang menggunakan pesawat Boeing 737 Max 8 tersebut hanya bisa menjadi rekomendasi untuk pihak terkait.

Meskipun begitu, setelah melihat sembilan penyebab yang berkontribusi dalam kecelakaan yang menewaskan 189 korban jiwa tersebut tampaknya desain pesawat Boeing 737 Max 8 bermasalah. Hal itu bermula dari kerusakan indikator kecepatan dan ketinggian di pesawat tersebut yang terjadi pertama kali pada 26 Oktober 2018 dalam penerbangan dari Tianjin, Cina ke Manado.

Baca Juga

"Setelah beberapa kali perbakan pada kerusakan yang berulang pada 28 Oktober 2018 angle of attack (AOA) sensor kiri diganti di Denpasar," kata Ketua Sub Komite Investigasi Keselamatan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo dalam konferensi pers di Gedung KNKT, Jumat (25/10).

Dia menjelaskan AOA sensor kiri pesawat yang dipasang kembali itu bergerak 21 derajat lebih tinggi. Permasalahan tersebut menurut Nurcahyo tidak terdeteksi pada saat diuji. Menurutnya hal tersebut mengakibatkan perbedaan penunjukkan ketinggian dan kesepatan antara instrumen kiri dan kanan di kokpit.

Hal tersebut menurutnya juga mengaktifkan stick shaker dan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta. Hanya saja, Nurcahyo mengatakan pilot dalam penerbangan dari Denpasar ke Jakarta berhasil menghentikan aktifnya MCAS dengan memindahkan stab trim switch ke posisi cut out.

Setelah mendarat di Jakarta, lanjut Nurcahyo, pilot melaporkan kerusakan yang terjadi namun tidak melaporkan stick shaker dan pemindahan stab trim ke posisi cut out. Bahkan, ampu peringatan AOA disagree juga tidak tersedia di pesawat Boeing 737 Max 8.

"Sehingga pilot tidak melaporkannya. Masalah yang dilaporkan ini hanya dapat diperbaiki menggunakan prosedur perbaikan AOA disagree," tutur Nurcahyo.

Pada 29 Oktober 2018 pesawat dioperasikan dari Jakarta ke Pangkalpinang. Nurcahyo menjelaskan pada perekam data penerbangan atau flight data recorder (FDR) pesawat tersebut merekam kerusakan yang sama terjadi pada penerbangan dari Jakarta menuju Pangkalpinang seperti sebelumnya.

Nurcahyo mengatakan pilot melaksanakan prosedur non-normal untuk AOA disagree namun tidak mengenali kondisi runaway stabilizer. "Beberapa peringatan, berulangnya aktivasi MCAS dan padatnya komunikasi dengan ATC berkontribusi pada kesulitan pilot untuk mengendalikan pesawat," jelasn Nurcahyo.

Nurcahyo mengatakan MCAS merupakan fitur yang baru di pesawat Boeing 727 Max 8 untuk memperbaiki karakteristik angguk atau pergerakan pada bidang vertikal pesawat pada kondisi flap up, manual flight atau tanpa auto pilot, dan AOA tinggi.

"Proses investigasi menemukan bahwa desain dan sertifikasi fitur ini tidak memadai, juga pelatihan dan buku panduan untuk pilot tidak memuat informasi terkait MCAS," jelas Nurcahyo.

Selanjutnya pada 10 Maret 2019, kecelakaan serupa terjadi di Ethiopia. Kecelakaan tersebut juga melibatkan pesawat Boeing 737 Max 8 yang mengalami kerusakan AOA sensor.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement