Ahad 06 Oct 2019 15:24 WIB

BI : Perekonomian DIY akan Terus Menguat

Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) naik 2,6 poin dari capaian Agustus 2019.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Yusuf Assidiq
Kepala Kantor Perwakilan BI DIY, Hilman Tisnawan.
Foto: Republika/Silvy Dian Setiawan
Kepala Kantor Perwakilan BI DIY, Hilman Tisnawan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DUY, Hilman Tisnawan mengatakan, perekonomian DIY akan terus menguat. Hal ini ia sampaikan berdasarkan survei konsumen yang dilakukan BI DIY pada September 2019.

"Diindikasikan optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian DIY menguat yang tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 144,4 poin jauh di atas batas indeks 100 poin," kata Hilman, dalam keterangan resminya.

Ia menjelaskan, indeks tersebut naik 1,6 poin dari indeks pada bulan sebelumnya dan naik 6,8 poin dari indeks periode yang sama tahun lalu. Menguatnya optimisme ini ditopang meningkatnya indeks keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan.

Pada September 2019, Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) naik 2,6 poin dari capaian Agustus 2019 menjadi 136,3 poin. Menguatnya optimisme ini, lanjutnya, karena keyakinan sebagian besar responden bahwa kegiatan usaha saat ini relatif membaik.

"Kenaikan IKE dimotori oleh kenaikan indeks pada hampir seluruh komponen pembentuknya. Utamanya Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja sebesar 5,0 poin ke level 132,5 poin," jelasnya.

Sejalan dengan itu, indeks penghasilan saat ini meningkat 3,0 poin dari indeks bulan sebelumnya ke level 143,5 poin. Peningkatan ini mendorong konsumen tetap optimis untuk melakukan pembelian barang tahan lama.

"Terutama pada komoditas elektronik seperti HP, TV, AC, lemari es, kendaraan seperti sepeda motor, mobil, serta furnitur, dan perabotan rumah tangga," tambahnya.

Menurut Hilman, menguatnya optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian DIY diperkirakan akan berlanjut pada enam bulan ke depan. Yang mana, terindikasi dari naiknya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 0,5 poin menjadi 152,5 poin.

"Kenaikan IEK dimotori oleh meningkatnya Indeks Ekspektasi Penghasilan ke depan sebesar 8,0 poin ke level 157,5 poin yang didorong kenaikan gaji dan omzet usaha pada enam bulan ke depan," ujar dia.

Berdasarkan survei, kata Hilman, hampir seluruh responden yakni 98,1 persen mengaku pendapatan yang diperoleh saat ini dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga. Yang mana, 18,9 perseb di antaranya memiliki tingkat penghasilan yang melebihi standar kebutuhan sehari–hari.

Survei menunjukkan, 88,5 persen responden telah memiliki dana cadangan untuk kejadian tak terduga. Mayoritas berupa deposito atau tabungan yang bernilai lebih dari satu sampai tiga bulan pendapatan.

Sementara itu, pada periode tiga bulan mendatang yakningmhingga Desember 2019, diperkirakan ada kenaikan harga. Hal ini seiring tingginya permintaan barang atau jasa pada periode Natal dan Tahun Baru.

Hasil survei, lanjutnya, juga mengindikasikan tekanan harga pada Desember 2019 diperkirakan lebih tinggi dari November 2019 (mtm). Namun, ditengarai lebih rendah dari Desember 2018 (yoy).

"Kondisi ini tercermin dari Indeks Ekpektasi Harga (IEH) tiga bulan mendatang yang berada pada level 170,0 poin naik 1,5 poin dari indeks bulan sebelumnya. Dan turun 1,5 poin dari indeks bulan yang sama tahun lalu," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement