Rabu 02 Oct 2019 02:00 WIB

Tak Ada Permusuhan Perantau Minang dan Warga Wamena

Banyak penduduk Wamena yang menyelamatkan perantau Minang.

Rep: Mimi Kartika/ Red: Muhammad Hafil
Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit saat diwawancarai wartawan di Hotel Balairung, Jakarta Timur, Selasa (1/10).
Foto: Republika/Mimi Kartika
Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit saat diwawancarai wartawan di Hotel Balairung, Jakarta Timur, Selasa (1/10).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Wakil Gubernur Sumatra Barat (Wagub Sumbar) Nasrul Abit memastikan kericuhan di Wamena, Papua yang menimbulkan korban warga Minang bukan karena adanya permusuhan warga Minang dan warga Wamena. Menurutnya, justru penduduk Wamena ikut menyelamatkan warga pendatang.

"Tidak ada di sana terjadi permusuhan, perang antarsuku Wamena dengan pendatang, tidak, malah justru masyarakat asli penduduk Wamena menyelamatkan pendatang itu ditaruh di rumahnya," ujar Nasrul saat konferensi pers di kawasan Jakarta Timur, Selasa (1/10).

Baca Juga

Ia mendengarkan sendiri cerita warga Minang saat kunjungannya ke Papua, warganya itu dilindungi warga Wamena di rumah-rumah dan gereja-gereja. Nasrul mengatakan, ada gerombolan dari luar datang dan menakuti-nakuti penduduk di Wamena.

Sebab, lanjut dia, ada warga Wamena juga yang menjadi korban amukan saat kerusuhan tersebut. Jika perusuh merupakan orang Wamena tidak mungkin warga Wamena sendiri yang menjadi korban.

"Jadi ini memang ada kaum yang datang dari luar lah ada gerombolan datang, itu (warga) ditakut-takuti. Ternyata masyarakat di sana juga ada di bakar masa orang Wamena membakar Wamena nggak mungkin," jelas Nasrul.

Namun, banyak perantau asal Sumbar yang menetap di Wamena ingin pulang ke kampung halamannya. Sehingga, Pemprov Sumbar pun tak bisa menahan masyarakat yang ingin ke tempat yang lebih aman.

Di sisi lain, Nasrul berharap bagi warga Sumbar yang mempunyai usaha di Wamena untuk tetap bertahan di Papua. Menurutnya, pemerintah Papua, pemerintah pusat, dan aparat keamanan menjamin keamanan dan berusaha memulihkan kondisi agar aktivitas dan perekonomian kembali normal.

"Memang ada di antara mereka memang yang ingin pulang, habis karena mereka mungkin ada usaha di rumah, tapi bagi mereka yang ada usaha di sana kita sarankan untuk tidak kembali (ke Sumbar)," tutur Nasrul.

Ia juga meminta agar warga Sumbar tak terpancing berita-berita hoaks atau informasi bohong atas kemungkinan ada penyerangan terhadap warga pendatang. Mengingat ada korban warga asli Papua, sehingga kerusuhan bukan semata-mata ditujukan kepada pendatang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement