Kamis 19 Sep 2019 01:15 WIB

Kabut Asap, 355 Orangutan di Nyaru Menteng Terancam Sakit

Sudah puluhan orangutan di Nyaru Menteng terjangkit penyakit saluran pernapasan.

Seorang pengasuh memberi susu kepada sejumlah orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS), Nyaru Menteng, Palangkaraya, Kalteng.
Seorang pengasuh memberi susu kepada sejumlah orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) di Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS), Nyaru Menteng, Palangkaraya, Kalteng.

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKARAYA -- Sebanyak 355 orangutan yang berada di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng, Provinsi Kalimantan Tengah, terancam sakit akibat semakin pekatnya kabut asap beberapa pekan terakhir. CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite melalui pernyataan tertulisnya di Palangkaraya, Rabu, mengatakan bahwa 37 dari ratusan orangutan muda di Nyaru Menteng pun terindikasi telah terjangkit infeksi saluran pernapasan ringan.

"Tim medis dengan sigap memberikan pengobatan menggunakan nebulizer, multivitamin, dan antibiotik, terutama bagi orangutan yang dianggap mengidap infeksi parah," ungkap Jamartin.

Baca Juga

Api disebut sempat mengancam Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng yang terletak tidak jauh dari kota Palangkaraya. Di pekan pertama Agustus 2019, tim pemadam kebakaran Yayasan BOS sempat berjibaku melawan api yang mendekat sampai jarak sekitar 300 meter dari batas Nyaru Menteng.

Jamartin mengatakan, tim bersama sejumlah pihak lain berhasil memadamkan api setelah empat jam. Tim di Nyaru Menteng bersama masyarakat serta unsur-unsur pemerintahan lainnya pun semakin rutin patroli.

"Pemadaman beberapa titik api di sekitar Nyaru Menteng juga terus dilakukan. Itulah yang membuat kami berhasil mencegah penyebarannya," kata Jamartin.

Dia mengaku ada sekitar 80 hektare hutan gambut di wilayah kerja Yayasan BOS terbakar. Lokasinya tersebar di Sei Daha dekat Pusat Penelitian Tuanan seluas 20 hektare dan 60 hektare di Sei Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalteng.

Meski begitu, Yayasan BOS di Program Konservasi Mawas bekerja sama dengan masyarakat sekitar dan tim di Pusat Penelitian Tuanan mengendalikan, mengisolasi, dan memadamkan kebakaran.

"Kondisi itu tidak mengendurkan semangat kami untuk terus bekerja melindungi orangutan Kalimantan dan habitatnya," demikian Jamartin.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement