Jumat 06 Sep 2019 09:59 WIB

Kabut Asap di Sampit Semakin Parah

Kabut asap semakin parah mengakibatkan jarak pandang sangat pendek

Sejumlah kendaraan bermotor melaju menembus kabut asap
Foto: Antara/Bayu Pratama S
Sejumlah kendaraan bermotor melaju menembus kabut asap

REPUBLIKA.CO.ID, SAMPIT  - Kondisi kabut asap akibat kebakaran lahan di Sampit, Kalimantan Tengah, semakin parah. Kondisi tersebut sangat mengganggu masyarakat.

"Pagi ini jarak pandang di sekitar Bandara H Asan hanya 50 meter," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Haji Asan Sampit Nur Setiawan di Sampit, Jumat (6/9).

Pantauan di lapangan sekitar pukul 06.00 WIB, kabut asap semakin parah mengakibatkan jarak pandang sangat pendek. Di beberapa lokasi kawasan dalam kota seperti Jalan HM Arsyad dan Sudirman dan Achmad Yani, jarak pandang hanya berkisar 10 hingga 20 meter.

Kawasan Sungai Mentaya juga diliputi asap tebal. Bahkan kawasan seberang sungai tidak terlihat lantaran tertutup tebalnya asap kebakaran lahan.

Sebagian besar warga yang beraktivitas memilih menggunakan masker agar tidak terhirup asap bercampur debu kebakaran lahan. Untuk mencegah kecelakaan lalu lintas, pengendara menyalakan lampu dan mengurangi kecepatan. Tidak terkecuali di sungai, motoris juga mengurangi kecepatan karena jarak pandang aman hanya sekitar 30 meter.

Hingga pukul 07.30 WIB, kabut asap masih cukup pekat. Sejumlah sekolah seperti di SDN 3 Mentawa Baru Hulu mengarahkan murid mereka untuk menggunakan masker dan tidak berada di luar ruangan agar tidak terdampak buruk kabut asap.

"Kemungkinan (asap) ini agak lama, selain karena di sekitar Kota Sampit sendiri banyak hot spot, juga di wilayah selatan yang menimbulkan asap dan bergerak ke arah barat laut hingga utara," kata Nur Setiawan.

Kabut asap ini diduga akibat bertambahnya titik api yang terpantau di wilayah Kotawaringn Timur, pada Kamis sore tercatat hampir 300 titik, pada Jumat pagi bertambah menjadi 347 titik panas.

Bupati Kotawaringin Timur Supian Hadi menginstruksikan seluruh camat, lurah dan kepala desa untuk memaksimalkan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan. Saat seperti ini sangat rawan terjadi kebakaran lahan dan kabut asap parah sehingga harus dicegah.

"Saya memohon dengan sangat kepada seluruh masyarakat untuk tidak membakar lahan. Dampaknya sudah sangat mengganggu masyarakat luas, mulai dari kesehatan, pendidikan dan aktivitas ekonomi," ujar Supian.

Dia mengajak masyarakat turut membantu Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan untuk menangani kondisi ini sehingga kebakaran lahan dan asap bisa segera berakhir. Partisipasi dan kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan agar semua berjalan sesuai harapan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement