Kamis 08 Aug 2019 05:03 WIB

Konflik Kashmir

Kondisi Kashmir yang memananas akan bisa pecah menjadi konflik antar umat beragama..

Tentara India di Kashmir. Pemerintah India menyerukan gencatan senjata di Kashmir selama Bulan Ramadhan, Kamis (17/5).
Foto: NDTV.com
Tentara India di Kashmir. Pemerintah India menyerukan gencatan senjata di Kashmir selama Bulan Ramadhan, Kamis (17/5).

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Ketika membaca wilayah Kashmir memanas, ingatan langsung melayang pada suasana upacara penurunan bendera di berbatasan India dan Pakistan di Lahore. Di sana, menjelang senja tiba, pasukan penjaga perbatasan dari kedua negara itu saling unjuk kegagahan. Mereka bersaing 'tampan' mengenai cara penurunan bendera.

Acara itu memang penuh emosi. Layaknya pagelaran pertandingan olahraga, ratusan penonton datang menyaksikan sembari duduk di tribun. Selintas kedua pasukan akan saling serang, tapi begitu sampai dititik perbatasan masing berbalik ke wilayah negara sendiri. Perbatasan seakan menjadi sebuah tembok yang kasat mata padahal sebenarnya nyata adanya.

Tentu saja ekspose itu memakan emosi. Apalagi keduanya menampilkan identitas negaranya masing-masing. Pasukan Pakistan sembari memakai pengeras suara melantunkan pembacaan ayat suci Alquran. Suaranya sangat membahana. India pun tak masuk kalah. Dia balas dengan melayangkan ke udara suara pembacaan ayat suci kitab Agama Hindu. Suara juga memekakan telinga. Suasana  ini persis rapat akbar sewaktu kampanye.

Saya yang berdiri di sisi perbatasan Pakistan kala itu terkejut dan bengong. Kesan masih ada perseteuan antara kedua negara memang terasa. Suasana damai tak terasa karena yang tercium persaingan fisik. Apalagi, di tembok perbatasan dari sisi Pakistan terpampang diorama ketika kedua negara melakukan perang di dekade 1960-an dahulu. Gambaran suasana rakyat yang panik dan mengungsi akibat perang itu kembali membayang.

Nah, kini tiba-tiba menyeruak lagi soal Kashmir yang selama ini terpendam seperti bara di antara India dan Pakistan. Keduanya memang selama ini berusaha keras menahan diri sembari tetap mengklaim bahwa wilayah itu teritornya. Sedangkan warga  Kashmir yang mayotias Muslim tetap mengingkan mendirikan negara merdeka dari keduanya. Dan ini makin runyam ada negara yang kini tengah menjadi 'raksasa dunia' yakni China juga ikut dalam konflik. Negara ini memang juga letaknya berdekatan dengan wilayah tersebut.

Bagi Kashmir, untuk menjadi sebuah negara mandiri, Kashmir memenuhi segala persyaratan. Secara alamiah, Kashmir memang layaknya mutu manikam sebagai sebuah kawasan dengan panorama lembah memukau di selatan dari ujung paling barat barisan Himalaya. Tanahnya sangat subur, air tercukupi sepanjang tahun karena memiliki banyak aliran sungai. Dari dahulu Kashmir di kenal sebagai suatu tempat yang spektakuler.

Situs wikipedia mencatatat kota Srinagar, ibu kota kuno Kashmir, yang terletak di dekat Danau Dal, sampai kini terkenal karena kanal dan rumah perahunya. Sejak dahulu kala, Srinagar dengan ketinggian 1.600 m atau 5.200 kaki berlaku sebagai ibu kota musim panas bagi banyak penakluk asing yang mendapatkan panas di utara India. Tepat di luar kota terdapat taman Shalimar yang indah dibuat oleh Jahangir, kaisar Mughal, pada 1619.

Dan tentu saja, baik Pakistan, India, dan juga China, tak ingin kehilangan pengaruh di sana. Pemerintah India hari ini bersikukuh mengeluarkan kebijakan kontroversial yang memicu kemarahan penduduk Kashmir. Mereka mencabut status Kashmir sebagai sebuah wilayah istimewa. di sini tampak pemerintah India ingin menjadikan wilayah ini sepenuhnya merupakan teritorinya dengan memberikan status otonomi.

Bagi warga setempat mereka memprotes dengan melakukan aksi pelemaran batu kepada aparat keamanan India yang berjaga di wilayah itu. Tentara India membalas dengan melakukan represi ketat serta memutuskan jaringan telekomunikasi. Tapi kemarahan terus meletup seiring beberapa tokoh Kashmir ditangkapi.

Tentu saja suara keras datang dari Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan. Dia lantang mengatakan bila langkah India mencabut otonomi Kashmir melanggar hukum internasional. Dia khawatir akan ada pembersihan etnis oleh India.

Tak hanya itu, perseteruan umat Hindu dan Islam kini membayang. Kata Khan, penghapusan status khusus akan memungkinkan India mengubah susunan demografis negara mayoritas Muslim tersebut. "Saya khawatir (India) sekarang akan melakukan pembersihan etnis di Kashmir," kata Khan, dilansir BBC, Rabu (7/8).

"Mereka akan mencoba menghilangkan penduduk lokal dan membawa orang lain dan menjadikan mereka mayoritas sehingga penduduk setempat menjadi budak," ucapnya.

Adanya pernyataan ini tentu saja mengkhawatirkan. Apalagi harus diakui sayap kekuatan konservatif Hindu kini berkuasa dan terus menguat di India. Konflik berdarah terpampang di depan mata bila tak ada yang mau menahan diri. Bila sampai terjadi, berarti konflik dan perang yang sudah memakan ribuan korban penganut  umat beragama, bangkit kembali di anak benua Asia itu. Ini jelas menggidikan sebab imbasnya bisa ke mana-mana.

Kashmir wilayah indah, tapi bernasib sial!

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement