Ahad 28 Jul 2019 13:30 WIB

Dinkes Jabar: 24 Orang Terdampak Erupsi Tangkuban Parahu

Kebanyakan warga terdampak erupsi Tangkuban Parahu mengalami sesak napas.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Andri Saubani
Petugas melakukan pengamatan di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (27/7).
Foto: Republika/Edi Yusuf
Petugas melakukan pengamatan di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (27/7).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mencatat 24 orang yang terdampak erupsi Gunung Tangkuban Parahu telah ditangani. Oleh karena itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan Jabar Berli Hamdani Gelung Sakti, pihaknya pun telah menaruh bantuan logistik di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat dengan lokasi kejadian. Salah satunya, menyiapkan 1.000 helai masker agar warga tidak menghirup debu vulkanis yang berbahaya.

Menurut Berli, 24 orang yang terkena dampak  itu kebanyakan mengalami sesak napas. Mereka sudah menjalani perawatan di RSUD Lembang. Namun, mereka pun sudah bisa pulang.

Baca Juga

"Ada satu orang yang mengalami luka bakar akibat dari terlalu dekat saat terjadinya erupsi, tapi kita sekarang tetap turunkan tim semua ada di lapangan dan sekali lagi kita ikut mantau mudah-mudahan kondisi erupsi tidak berlanjut,” papar Berli.

Dinkes Jabar pun, kata dia, sudah bekoordinasi dengan berbagai pihak. Yakni, mulai dari balai penanggulangan bencana daerah (BPBD), faskes yang berada terdekat di lokasi kejadian seperti Puskemsas Cikole, RSUD Lembang dan pihal lainnya.

“Kami langsung luncurkan logistik berupa masker. Sudah kita dropping di lokasi," ujar Berli kepada wartawan akhir pekan ini.

Berli mengatakan, ia pun sudah memberikan informasi kepada masyrakat agar tetap tenang dan mengikuti petunjuk dari petugas yang ada di lapangan. Selain losgistik masker, tenaga medis kesehatan pun siap siaga sudah ada di tempat.

“Kita juga sudah buat pengajuan ke kemenkes untuk penambahan logistik sebagai stok, baru masker yang diajukan karena untuk yang lain-lain insyaallah kita siap,” katanya.

Berli menilai, masker menjadi prioritas saat ini karena jika abu vulkanis terhirup jelas berbahaya bagi saluran pernapasan karena banyak sekali mengandung partikel. Bukan hanya debu, tapi juga logam berat, ada gas yang mengandung racun sangat berbahaya untuk kesehatan.

“Selain sesak napas kalau sampai gas beracun itu terhirup bisa berdampak fatal pada kesehatan,” katanya.

Sementara Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek, kalau masih ada debu vulkanik maka warga sekitar maupun yang beraktivitas di sekitar lokasi harus memakai masker. ”Tolong dipakai (masker) saya lihat tadi radius 500 meter masih tidak boleh ke sana,” katanya.

Nila meminta, aparat terkait mengecek warga sekitar, terlebih jika ada warga yang mengungsi. “Nanti kita lihat apakah ada pengungsi atau tidak mudah-mudahan masih aman dalam hal ini,”katanya.

Menurut Ketua Jabar Quick Response (JQR) Bambang Trenggono, ia telah berkordinasi dengan Dinas Kesehatan Jabar guna membagikan masker pada penduduk di sekitar wilayah Gunung Tangkubanparahu. Sedikitnya 1.000 masker disalurkan. JQR, akan menurunkan tim untuk membagikan masker dan oksigen kepada masyarakat mengingat sampai saat ini ancaman yang dihadapi masyarakat terkait erupsi Gunung Tangkuban Parahu masih sebatas abu vulkanik yang dapat membahayakan kesehatan.

"Kami berharap masyarakat untuk tidak panik dan memantau situasi terkini terkait erupsi Gunung Tangkuban Parahu dengan hanya mengakses informasi dari sumber-sumber valid yang dikeluarkan oleh badan resmi pemerintah, " katanya.

Sampai saat ini Jabar Quick Response terus berkoordinasi dan berkonsolidasi dengan elemen respons cepat lainnya untuk terus memantau erupsi Gunung Tangkuban Parahu. "JQR  melakukan monitoring statis dengan memantau berita berita yang terpercaya dari lembaga resmi pemerintah baik pusat atau daerah, kemudian monitoring dinamis dengan menurunkan tim dan jaringan JQR di lokasi. Kami memantau dan akan meng-update setiap dua jam," paparnya.

[video] Beredar Video Detik-Detik Tangkuban Perahu Alami Erupsi

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement