Senin 15 Jul 2019 06:00 WIB

MOS Diharapkan Tidak Jadi Ajang Kekerasan dan Bullying

Wagub Sumbar tak ingin MOS jadi ajang kekerasan dan bullying.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Reiny Dwinanda
Siswa senior SMK Negeri 1 Serang memotong kuku adik kelasnya yang baru masuk saat Masa Orientasi Sekolah (MOS), di Serang, Banten, Selasa (28/7). Pihak sekolah menekankan kegiatan MOS edukatif seperti kerapihan dan kegiatan baris berbaris untuk mencegah pr
Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Siswa senior SMK Negeri 1 Serang memotong kuku adik kelasnya yang baru masuk saat Masa Orientasi Sekolah (MOS), di Serang, Banten, Selasa (28/7). Pihak sekolah menekankan kegiatan MOS edukatif seperti kerapihan dan kegiatan baris berbaris untuk mencegah pr

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG PARIAMAN- Wakil Gubernur Sumatra Barat Nasrul Abit mengingatkan pelajar sekolah, terutama tingkat SMP dan SMA sederajat, agar tidak menjadikan momen Masa Orientasi Siswa (MOS) sebagai ajang untuk bullying apalagi tindak kekerasan kepada pelajar baru. Ia menyebut MOS adalah momen untuk mendidik para pelajar junior tentang kedisiplinan dan pengenalan suasana baru yang positif untuk menunjang aktivitas belajar.

"MOS itu untuk pembinaan kedisiplinan, pembinaan budi pekerti, dan kreativitas," kata Nasrul di Kabupaten Padang Pariaman, Ahad (14/7).

Baca Juga

Nasrul mengingatkan pelajar yang menjadi panitia MOS bahwa kekerasan di sekolah akan terancam dengan pidana. Ia mengatakan, pelaku kekerasan saat MOS akan berurusan dengan aparat penegak hukum.

Nasrul tak ingin mendengar warganya berurusan dengan kepolisian karena melakukan tindak kekerasan dan bullying saat MOS. Apalagi, kalau MOS sampai berujung pada kekerasan yang menghilangkan nyawa.

"Saya mendengar yang lalu-lalu ada MOS menyebabkan siswa meninggal dunia. Jangan sampai ada yang seperti itu di Sumatra Barat," ujar Nasrul.

Senin (15/7) adalah hari pertama sekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA. Untuk SMP dan SMA sederajat memang sudah ada kegiatan MOS sebagai tahapan tahunan. Biasanya, panitia MOS berada di bawah naungan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan para guru pembina.

Sebelumnya diberitakan seorang siswa meninggal dunia usai mengikuti MOS di SMA Taruna Palembang. Siswa bernama DBJ (14 tahun) itu diduga meninggal karena kelelahan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement