Kamis 04 Jul 2019 20:53 WIB

Jokowi: Tak Apa Infrastruktur Mahal, Asal Datangkan Devisa

Jokowi menegaskan pemerintah telah melakukan hitungan dari biaya infrastruktur.

Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Pulisan, Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (4/7/2019).
Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Pulisan, Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (4/7/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO -- Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah tidak mempersoalkan biaya pembangunan infrastruktur yang mahal. Asal, kata Jokowi, penggunaannya dapat mendatangkan devisa bagi negara.

"Tadi ada yang menyampaikan, mengembangkan pariwisata ke Pulau Lembeh, tapi saya belum lihat. Katanya kurang jembatan ya sudah dikasih jembatan," kata Presiden Jokowi di Gedung Graha Bumi Beringin, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (4/7).

Baca Juga

Ia juga mengaku sempat berbisik dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuldjono tentang permintaan infrastruktur Sulawesi Utara (Sulut). Menteri PUPR, kata Presiden, mengatakan, "Pak ini mahal loh". Jokowi pun mengaku tak mempersoalkannya untuk Sulut. Karena bila akses bagus, maka wisatawan akan masuk dan ini akan menghasilkan devisa.

"Devisa masuk, dolar masuk, jadi negara punya hitung-hitungan berapa yang kembali ke negara, bukan mengeluarkan saja," kata Presiden Jokowi saat membagikan 2.000 sertifikat tanah dalam kunjungan kerja ke Sulut pada 4-5 Juli 2019.

Sebelumnya pada hari ini Presiden Jokowi mengunjungi Bandara Sam Ratulangi (Manado) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Pulisan-Likupang (Minahasa Utara). "Tadi siang saya dengan Pak Gubernur dan Pak Menteri ke tempat-tempat wisata, tadi ke Minahasa Utara ke Likupang, besok ke Bitung. Kita ingin mengembangkan pariwisata Sulut karena ekonomi di sini tumbuh pariwisatanya," ujar Presiden Jokowi.

Presiden menyebut Gubernur Sulut OllyDondokambey memiliki insting yang bagus untuk mengembangkan pariwisata di provinsi tersebut. Karena itu, lanjut dia, pemerintah mendukung pembangunan pariwisata Sulut.

"Kami ingin pemerintah pusat memberikan dukungan misalnya jalan diperbesar, pantainya belum punya plasa maka tahun ini kita siapkan supaya tahun depan selesai. Terminal bandaranya kurang gede karena sekarang baru menampung dua juta penumpang, maka Agustus 2020 terminal digedein jadi enam juta penumpang," kata Presiden.

Pemerintah pusat juga masih membantu untuk memperlebar landas pacu agar pesawat badan besar bisa mendarat di Manado. "Saya hitung-hitung kok kebanyakan ini ke Sulut? Jalan digedein, terminal bandara digedein, plasa pantai diperbaiki, nanti malam muter lagi ketemu apa, memang seperti itu bekerja, datang ke sini lalu melihat yang indah dan bagus jadi mau kembali lagi, jangan kalah dengan Bali," ujar Presiden Jokowi.

Presiden juga berpesan agar warga memiliki budaya yang mendukung pariwisata. Warga harus ramah dan tak buang sampah sembarangan. "Restoran-restoran, warung-warung, toiletnya yang bersih," katanya lagi.

Data kantor imigrasi kelas I Manado menunjukkan turis mancanegara pada periode Januari-Mei 2019 mencapai 55.144 orang atau meningkat 9,67 persen dari periode yang sama pada Januari-Mei 2018 yaitu 50.284 orang dengan asal negara paling banyak adalah China (86 persen), Singapura (dua persen), Jerman (dua Persen), Amerika (1,3 persen) dan negara lainnya.

Kementerian Pariwisata menyebutkan Provinsi Sulut dinobatkan sebagai The Rising Star dalam sektor pariwisata Indonesia karena mampu mendorong pertumbuhan kinerja pariwisata hingga 600 persen dalam empat tahun terakhir. Dalam empat tahun itu kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulut meningkat enam kali lipat. Begitu juga pergerakan wisatawan Nusantara (wisnus) dari sekitar dua juta menjadi empat juta atau dua kali lipat. Padahal di daerah lain pertumbuhan kunjungan wisataan hanya sekitar 5-10 persen.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement