Sabtu 09 Mar 2019 06:00 WIB

Presiden Strok, dan Aljazair yang Terbelah

Sekalipun sudah 82 tahun dan stroke, Bouteflika tetap maju sebagai calon presiden.

 Ani Nursalikah
Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Ani Nursalikah

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Ani Nursalikah*

Beberapa pekan terakhir Aljazair dilanda protes. Masyarakat dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi bersatu dan turun ke jalan.

Jumlahnya puluhan ribu orang. Guru, pengacara, mahasiswa, dan jurnalis tidak ketinggalan turun ke jalan. Bahkan, demonstrasi ini kental dengan dominasi mahasiswa.

The Guardian dalam laporannya mengatakan aksi itu bahkan bisa disebut sebagai unjuk rasa terbesar yang pernah terjadi di negara tersebut sejak musim semi Arab 2011. Sebabnya, mereka memprotes pencalonan kembali Presiden Abdelaziz Bouteflika.

Bouteflika sebelumnya telah mengumumkan akan kembali maju dalam pemilihan bulan depan. Bagi banyak warga Aljazair sulit memahami bagaimana presiden mereka bisa menjalankan negara. Bouteflika kini berusia 82 tahun dan ia menderita strok sejak enam tahun lalu.

Dia bahkan tidak hadir saat mendaftarkan pencalonannya untuk kelima kali pekan lalu. Masyarakat tidak habis pikir, bagaimana presiden mereka yang jelas-jelas sakit, tidak mampu berbicara, dan duduk di kursi roda akan bisa memimpin.

Veteran perang itu dinilai tidak cukup sehat untuk memimpin, sesuai dengan pasal 102 konstitusi mereka. Pasal tersebut berbunyi jika presiden mengalami penyakit serius dan berlangsung dalam waktu lama sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya, Dewan Konstitusi setelah bertemu dan memverifikasinya, akan mengusulkan kepada Parlemen dengan suara bulat untuk menyatakan ketidakmampuan itu.

Dia berada di Switzerland sejak 24 Februari. Pemerintah mengatakan dia menjalani serangkaian tes medis. Bouteflika menggunakan kursi roda dan penampilannya di muka umum bisa dibilang langka sejak 2013.

Bouteflika terpilih menjadi presiden Aljazair pada 1999. Dia adalah kepala negara kelima dan yang terlama memimpin negara Afrika Selatan ini.

Pendukungnya memujinya sebagai orang yang mampu menghentikan perang sipil berdarah selama 1990-an. Perang itu telah merenggut nyawa 200 ribu penduduk Aljazair.

Pria kelahiran Oujda, Maroko pada 2 Maret 1937 itu menghabiskan lima tahun pertama kepemimpinannya mencoba menghentikan perang sipil. Dia berupaya mengeluarkan Aljazair dari isolasi diplomatik dan mulai membangun ekonomi yang stagnan.

Harga minyak yang tinggi antara 2004 dan 2014 memungkinkan Aljazair membangun infrastruktur, jalan, metro, dan menyelesaikan pembangunan masjid terbesar di Afrika. Namun, berbagai proyek itu juga mengundang tuduhan keluarga dan teman dekat presiden mendapatkan keuntungan dari proyek itu.

Di bawah kepemimpinannya, Aljazair berkembang di segala aspek kehidupan, politik, ekonomi, dan sosial. Sayangnya, jurnalis surat kabar El Watan mengatakan kepada Aljazirah, Bouteflika sudah bertindak terlampau jauh.

Dia melimpahkan semua kekuasaan di tangan presiden. Dia menghabiskan waktu melemahkan militer dan institusi negara, sejumlah kementerian, dan majelis nasional.

Pada 2008, dia mengubah konstitusi sehingga bisa mencalonkan diri menjadi presiden ketiga kali. Ketika itu, laporan mengenai kondisi kesehatannya yang menurun mulai muncul, tetapi tidak cukup menarik perhatian publik.

Sayangnya, Aljazair tampaknya tidak memiliki kandidat kuat untuk menggantikan Bouteflika. Jadi mengapa koalisi berkuasa dan oposisi tidak mampu menghadirkan kandidat lain yang layak.

Ditilik dari sejarahnya, oposisi sejak lama sudah terlalu terpecah. Ketika presiden bertambah tua dan semakin rapuh, pertengkaran di dalam elite yang berkuasa, termasuk tentara, telah melumpuhkan setiap perubahan politik. Front Pembebasan Nasional (FLN) yang berkuasa telah memerintah Aljazair sejak memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada 1962 setelah perang berdarah tujuh tahun.

Adik laki-laki Bouteflika, Said (61 tahun) adalah orang yang memegang kekuasaan dalam kepresidenan saat ini. Dia mengendalikan akses ke presiden. Tokoh penting lainnya adalah kepala staf tentara Jenderal Ahmed Gaid Salah.

Pakar Algeria James McDougal dari Oxford University mengatakan kepada //BBC//, dengan mengajukan kandidat yang tidak mampu, kekuasaan menunjukkan rasa jijiknya kepada kaum muda Aljazair di mana lebih dari 30 persen orang berusia di bawah 30 tahun menganggur.

Perang sipil yang berlangsung bertahun-tahun secara jelas meninggalkan trauma bagi warga Aljazair. Trauma inilah yang tampaknya membuat upaya reformasi sia-sia.

Ini semua telah menyebabkan ketidakpercayaan mendalam pada semua tingkatan masyarakat. Hal ini juga hanya menyisakan sedikit ruang untuk kompromi murni atau dialog nasional untuk memicu perubahan.

Jika ditengok, negara tetangga Aljazair di Afrika Utara juga dipimpin selama puluhan tahun oleh pemimpin yang sama. Di Libya, Muammar Gadafi memimpin selama 42 tahun. Sedangkan Zine El Abidine Ben Ali berkuasa di Tunisia sejak 1987 hingga 2011.

Sementara itu, manajer kampanye Bouteflika, Abdelghani Zaalane mengatakan di televisi nasional, Bouteflika akan menggelar pemilihan dini hanya jika ia terpilih kembali. Bouteflika akan mengadakan konferensi nasional untuk mempertimbangkan mengubah konstitusi dan mengundurkan diri setelah setahun berkuasa.

Zaalane menambahkan Bouteflika berjanji tidak akan mengikuti pemilihan tersebut. Dengan pemilihan dijadwalkan April mendatang, Bouteflika tampaknya akan jalan terus meski kondisi kesehatannya menurun dan protes yang saat ini menjadi hal rutin bagi warga Aljazair.

*) penulis adalah wartawan Republika.co.id

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement