Sabtu 23 Feb 2019 01:37 WIB

Sandiaga Janji Stabilkan Harga Buah Naga

Sekarang di tahun 2019, harga jual petani buah naga cuma Rp500 perkilogram

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Esthi Maharani
Buah Naga
Foto: Antara
Buah Naga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Salahuddin Uno mendengar keluhan petani buah naga asal Banyuwangi Susianto yang mengaku kesulitan menjual hasil taninya. Di tahun 2012, harga jualnya masih dikisaran Rp12 ribu-16 ribu.

"Sekarang di tahun 2019, harganya cuma Rp500 perkilogram. Harganya turun banget. Terakhir saya jual buah naga dua kwintal (200 kg) hanya dapat uang Rp 100 ribu," ucap Susianto dalam keterangan tertulis, Kamis (21/2).

Dari hasil penjualannya tersebut ketika itu, Susianto menggunakan uang itu untuk dibelikan sarung. Susianto mengaku sengaja sarung itu tidak dipakai dan digantung. Bahkan ia mengaku berdoa tiap malam berdoa dan melihat sarung sambil berharap harga buah naga naik kembali. 

Selain itu, turunnya harga buah naga juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Dulu dirinya mengaku kesulitan mencari tenaga kerja sampai harus menggaji orang luar daerah, kini sebaliknya, banyak yang menganggur karena jatuhnya harga buah naga. Susianto kemudian memberikan sarung yang pernah beli dari hasil jual buah naganya tersebut ke Sandiaga.

"Saya titipkan sarung ini kepada bapak. Agar jika nanti, Insya Allah menjadi wapres, ingat kepada petani buah naga, dan mencari solusinya," harap Susianto.

Mendengar keluhan dan harapan itu Sandiaga menegaskan bahwa dirinya saat ini belum bisa membuat kebijakan. Ia berjanji bahwa dirinya bakal menstabilkan harga buah naga.

"Jadi kita juga akan buat produk olahan dari buah naga. Jus-nya atau dodol yang sudah di produksi di sekitar sini. Insyaallah saya bersama Pak Prabowo Subianto akan membuat industri olahan buah naga. Kami juga akan menetapkan harga bawah buah naga," jelas Sandi.

Dalam kunjungannya itu Sandiaga juga berkesempatan melihat langsung perkebunan buah naga dan memetik langsung dari pohonnya. Ia sempat mengaduk dodol atau jenang yang di masak secara tradisional bersama emak-emak.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement