Rabu 13 Feb 2019 08:55 WIB

Warga Keluhkan Tanggul Pelabuhan Kali Adem

Tanggul membuat waktu bongkar muat bertambah dan tenaga lebih banyak terkuras

Rep: Mimi Kartika/ Red: Bilal Ramadhan
Pekerja bongkar muat ikan melintasi jembatan tanggul laut di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Senin (12/2).
Foto: Republika/Mimi Kartika
Pekerja bongkar muat ikan melintasi jembatan tanggul laut di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, Senin (12/2).

REPUBLIKA.CO.ID, Empat orang laki-laki tengah mengangkut boks ikan dengan berat kira-kira 1,2 kuintal hingga 1,7 kuintal. Mereka bekerja sama memindahkan hasil tangkapan nelayan dari kapal yang bersandar di dermaga menuju Pasar Ikan Muara Angke.

Mereka harus melewati tanggul yang telah dibangun di Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara. Tanggul itu kira-kira mencapai tinggi 4 meter. Untuk melaluinya hanya tersedia rentetan anak tangga dan ramp dengan kemiringan yang cukup tajam.

Akses itu dikeluhkan sebagian warga seperti para pekerja bongkar muat ikan. Salah satunya, Kalpi (30 tahun), menurut dia dengan akses tangga dan ramp yang sangat tinggi dapat menghambat pekerjaannya. Dari sisi waktu yang bertambah dan tenaga yang terkuras lebih.

"Pasti jadi terhambat, biasanya pukul 11.00 WIB sudah selesai bongkar muat, sejak adanya tanggul itu bisa sampai pukul 14.00 WIB," ujar Kalpi saat ditemui Republika di Pelabuhan Kali Adem, Jakarta Utara, Selasa (12/2).

Ia menjelaskan, sebelum ada tanggul, proses bongkar muat ikan menggunakan kendaraan roda empat. Moda itu lebih memudahkan pengangkutan ikan dari kapal yang berasal dari Kepulauan Seribu sampai ke tujuan di Muara Angke.

Kalpi dan kawan-kawan hanya perlu menaikkan dan menurunkan boks-boks ikan dari mobil. Namun, saat ini ia harus mengangkut boks-boks ikan satu per satu.

Ia harus menggunakan sebuah troli untuk mengangkut boks ikan itu dengan kerja sama hingga empat orang. Belum lagi para pekerja bongkar muat itu juga harus mengembalikan boks kosong yang beratnya lebih dari 15 kilogram.

"Selain waktu juga, ya, tenaga. Enggak cuma pas ada ikannya saja, boks kosongnya juga harus dibawa balik lagi. Harus naik tangga ini lagi," kata Kalpi.

Sementara, pengangkut ikan ini hanya dibayar Rp 35 ribu per boksnya. Apabila cuaca bagus sehingga para nelayan melaut dan mendapatkan banyak tangkapan, mereka bisa mengangkut di atas 30 boks. Akan tetapi, jika gelombang tinggi, mereka tak bisa mengangkut karena tak ada nelayan yang melaut.

Keluhan lainnya juga disampaikan nakhoda kapal Makmur Jaya 11 Express, Patawa (39 tahun). Menurut dia, warga Kepulauan Seribu kesulitan membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari dari Muara Angke. Ia mencontohkan, ada penumpang yang biasa mengisi puluhan air minum galon melalui jasa angkut kapalnya tak terlihat lagi.

"Ada Pak Haji biasanya bawa galon-galon buat diisi di Muara Angke, tapi ini enggak ada. Mana? Jadi, imbasnya ke kita juga, pemasukan berkurang lagi," kata Patawa.

Selain itu, ia mengasihani warga Kepulauan Seribu yang membawa barang-barang kebutuhan dari Muara Angke yang akan dipasok ke pulaunya. Barang-barang yang berat, seperti beras, sayuran, dan lain sebagainya harus dibawa melalui tangga yang tinggi. Bahkan, menurut dia, ada penyintas disabilitas yang menggunakan kursi roda kesulitan mengakses tangga maupun ramp tersebut.

Akan tetapi, Patawa mengatakan, ia tak mempersalahkan keberadaan tanggul yang justru sangat bermanfaat mencegah banjir rob akibat pasang air laut. Selain itu, lanjut dia, semenjak adanya tanggul, sekitar dermaga Pelabuhan Kali Adem terlihat lebih bersih dan rapi.

Ia dan warga lainnya hanya ingin ada kemudahan akses untuk melewati tanggul itu. Akses yang bisa dilalui kendaraan motor roda dua maupun roda empat.

Sementara itu, Wakil Bupati Kepulauan Seribu Junaedi menuturkan, tingginya tanggul membuat pemasok barang dagangan ke Kepulauan Seribu harus mengeluarkan uang tambahan. Mereka harus membayar kuli panggul sehingga harga barang-barang di sana lebih mahal.

"Orang-orang yang membeli bahan pokok harus menggunakan tenaga kuli angkut, jadi berdampak pada tingginya harga bahan kebutuhan," ujar Junaedi saat dihubungi Republika, Selasa.

Menurut Junaedi, pihaknya sudah melayangkan surat kepada Dinas Perhubungan DKI Jakarta untuk meminta akses jalan. Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menyiapkan jalan tembus untuk menyiasati tanggul setinggi 4 meter di Pelabuhan Kali Adem yang dikeluhkan warga tersebut.

"Kami sudah bersurat ke Dishub untuk percepatan agar Dishub bisa berkoordinasi dengan Wali Kota Jakarta Utara untuk melakukan penertiban, di situ ada bangunan, pihak Kecamatan, dan Dinas Bina Marga, untuk pembuatan jalan," ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement