Rabu 26 Dec 2018 14:37 WIB

Dinas KUK Jabar Dorong 4,56 Juta UMK Naik Kelas

Agar bisa bersaing kuncinya dengan membentuk komunitas dalam bentuk koperasi.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda
Dirut Bank BJB Ahmad Irfan dan Kepala OJK Regional Jabar Sarwono (kiri) meninjau stan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). (Ilustrasi)
Foto: Republika/Edi Yusuf
Dirut Bank BJB Ahmad Irfan dan Kepala OJK Regional Jabar Sarwono (kiri) meninjau stan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar), terus berupaya mendorong Usaha Mikro Kecil (UMK) di Jabar untuk mengembangkan usahanya. Berdasarkan sensus Ekonomi 2016 (SE2016) Jawa Barat, mencatat ada 4,63 juta usaha atau perusahaan nonpertanian. Dari jumlah tersebut sebanyak 98,49 persen atau 4,56 juta berskala UMK.

Menurut Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Jabar Dudi Sudradjat Abdurachim, keberadaan UMK tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi dinasnya untuk mendorong pelaku UMK naik kelas. Karena, gempuran perusahaan raksasa ke Jabar menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku UMK yang saat ini masih banyak yang terbatas dari sisi permodalan.

"Agar bisa bersaing, kuncinya dengan membentuk komunitas. Kalau UMK sendiri-sendiri rentan untuk mati," ujar Dudi, Selasa (25/12).

Dudi mengatakan, Dinasnya akan mendorong agar UMK bisa berkumpul dalam bentuk asosiasi atau melalui komunitas. Sejauh ini, cukup banyak pelaku usaha di Jabar yang tergabung dengan komunitas. Namun, pihaknya merasa perlu mendorong agar lebih banyak wadah-wadah bagi para produsen lokal.

"Banyak komunitas yang bagus-bagus, tapi masih kurang banyak ya. Kita akan terus mendorong agar lebih banyak lagi. Terutama di anak muda milenial," katanya.

Namun, kata Dudi, hanya mengandalkan komunitas saja tidak cukup. Dudi menyarankan, setiap komunitas tersebut berlandaskan badan koperasi. Sebab sesuai dengan fungsinya, koperasi bisa mendongkrak potensi dan kemampuan ekonomi anggota dan masyarakat.

"Saya menyarankan komunitas itu dalam bentuk koperasi. Karena saya meyakini masa depan ekonomi kita yang akan mensejahterakan adalah koperasi," katanya.

Dudi mengakui, saat ini masih banyak masyarakat yang belum memahami fungsi koperasi secara utuh. Khususnya di kalangan milenial yang masih menilai koperasi adalah organisasi ekonomi yang kuno.

"Saya punya niat re-branding koperasi agar lebih masuk kepada anak muda dan komunitas tertentu. Supaya koperasi itu kesannya tidak kampungan dan jadul," katanya.

Karena, kata Dudi, sebenarnya saat ini sudah banyak koperasi yang bisa mendunia. Dudi mencontohkan, ada Fonterra Co-operative Group Limited, yakni koperasi susu multinasional Selandia Baru yang dimiliki oleh 10.600 peternak Selandia Baru.

Perusahaan tersebut, menguasai 30 persen ekspor produk susu dunia. Begitu juga, Ocean Spray koperasi pertanian petani cranberry dan grapefruit yang bermarkas di Lakeville, Middleborough, Massachusetts, Amerika Serikat.

"Banyak perusahan-perusahaan besar basicnya dari koperasi seperti Fonterra di Selandia Baru dan Ocean Spray di Amerika," katanya.

Dudi optimistis, tren ke depan guna memajukan ekonomi domestik yaitu dengan koperasi. Hal tersebut sudah dibuktikan di negara-negara besar.

"Kita harus merapatkan barisan masyarakat kita, mengupayakan masyarakat mengunakan produk dalam negeri harus dengan gerakan yang masif," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement