REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto merespon kegiatan Reuni 212 yang berlangsung di Monas, Jakarta, Ahad (2/12) hari ini. Menurut Sunanto, umat Islam di Indonesia adalah satu entitas terbesar di Indonesia, baik dari sisi jumlah, jasa, maupun karya, bagi eksistensi dan kemajuan bangsa.
Meski Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat plural dilihat dari beragam komponen bangsa, tetapi persatuan umat Islam begitu nyata. "Jika umat Islam telah bersatu, maka akan menjadi kekuatan yang dahsyat yang tentu menjadi sesuatu hal yang sangat diperhitungkan," ujar Sunanto dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, Ahad (2/12).
Menurutnya, PP Pemuda Muhammadiyah menghormati Reuni 212 hari ini sebagai silaturahim umat Islam selama berjalan atas nama dakwah Islam dan silaturahim antarumat Islam. Apalagi, Pemuda Muhammadiyah menilai setiap warga negara memiliki hak asasi yang diatur dalam Undang-undang Dasar 1945 untuk berbicara dan berhimpun di muka publik.
Rombongan Majelis Talqin Ulil Albab, Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, ikut berkumpul di Lapangan Monas, Jakarta, Ahad (2/12). (Republika)
Namun, ia berharap tidak terjadi politisasi kegiatan doa dan dzikir dari Reuni 212 tersebut untuk kepentingan politik siapapun. "Kegiatan mulia dzikrullah (mengingat Allah SWT) adalah ibadah sakral yang seyogyanya bersih dari aktifitas politik yang bersifat profan," ungkapnya.
Ia juga mengingatkan, agar umat Islam tetap bersikap teduh, tawadu’, dan tasamuh dalam melihat setiap perbedaan, terutama perbedaan politik yang belakangan ini semakin tajam dalam tahapan kampanye pemilu 2019.
Menurutnya, Pemuda Muhammadiyah berkepentingan agar Umat Islam, dan bangsa Indonesia senantiasa menjaga jalinan persatuan. "Persatuan dan kesatuan Indonesia adalah anugrah Allah swt yang sangat besar. Untuk itu kewajiban kita semua untuk merawatnya," ujarnya.
15 penyandang disabilitas mengikuti reuni 212 di Monas pada Ahad (2/12).
Ia menambahkan, dalam kegiatan itu, Pemuda Muhammadiyah secara kelembagaan tidak mengutus secara resmi kader-kadernya. Namun Pemuda Muhammadiyah tidak melarang kehendak pribadi dari setiap kader yang hendak ikut dalam kegiatan tersebut.
"Selama kegiatan itu adalam agenda dakwah, dan dzikir umat Islam yang otentik," ungkap pria yang biasa disapa Cak Nanto tersebut.