Jumat 02 Nov 2018 11:09 WIB

Menhub: Hasil Investigasi Lion Air Paling Cepat Enam Bulan

Saat ini masih fokus perhatian pada pencarian kotak hitam kedua

Petugas gabungan dari TNI AL dan Basarnas mengangkat boks yang berisi Black Box pesawat Lion Air JT-610 dari laut ke KR Baruna Jaya I di perairan Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/11).
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Petugas gabungan dari TNI AL dan Basarnas mengangkat boks yang berisi Black Box pesawat Lion Air JT-610 dari laut ke KR Baruna Jaya I di perairan Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa hasil investigasi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terhadap kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 paling cepat terbit enam bulan kemudian.

"Saya tanya KNKT berapa lama proses itu berlangsung. Memang cukup lama, paling tidak enam bulan karena ada beberapa proses yang dilakukan," kata Budi usai pembukaan Lokakarya Wartawan di Jakarta, Jumat (2/11).

Budi mengatakan, saat ini masih memfokuskan perhatian pada pencarian kotak hitam kedua karena baru satu yang ditemukan, antara Flight Data Recorder atau Cockpit Voice Recoder (CVR).

"Sekarang baru ketemu yang FDR, satu lagi ada CVR, kami tunggu dan harapkan 1-2 hari ini jalan," katanya.

Dia mengatakan KNKT juga akan meminta data dari pihak menufaktur, dalam hal ini, Boeing untuk melengkapi bahan investigasi. "Juga karena ada konfirmasi yang harus dilakukan manufakturnya dan pihak tertentu. Seperti apa tindak lanjutnya itu nanti," katanya.

Saat ini KNKT sudah bertemu dengan pihak Boeing untuk merancang proses investigasi termasuk pendampingan dalam hal-hal teknis. "Yang sudah ketemu Boeing itu KNKT. Saya belum tau apa yang dibicarakan," katanya.

Sementara itu, KNKT tengah merancang rencana investigasi dengan Boeing terkait jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10). "Kami punya rencana investigasi seperti apa kemudian dia masuk mana saja yang bisa dibantu," kata Investigator Transportasi Udara KNKT Ony Suryo Wibowo.

Selain itu, ia juga meminta buku panduan (manual book) Boeing-737 Max 8 untuk dipelajari sebagai bagian dari proses investigasi.  "Buku. Kami kan tidak punya buku, manual book untuk Max-8," katanya.   

Dia mengatakan akan berupaya menemukan kotak hitam yang kedua, karena sampai saat ini dirinya masih belum bisa menentukan kotak hitam yang telah didapatkan itu Flight Data Recorder (FDR) atau Cockpit Voice Recorder (CVR).  

Ony menjelaskan apabila CVR tidak ditemukan, akan sangat sulit untuk melakukan investigasi karena tidak ada data kuat.    

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement