Rabu 31 Oct 2018 19:00 WIB

Kecamatan Jambu Canangkan Gerakan Cinta Produk Kopi Lokal

Luas lahan tanaman kopi di Kecamatan Jambu saat ini mencapai 3.500 hektare.

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Yusuf Assidiq
Para perwakilan dusun menerima piala dan piagam penghargaan 'Turnamen Ngopi Bareng' di kantor Kecamatan Jambu.
Foto: Bowo Pribadi.
Para perwakilan dusun menerima piala dan piagam penghargaan 'Turnamen Ngopi Bareng' di kantor Kecamatan Jambu.

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN -- Segenap warga Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, punya tekad untuk mengangkat potensi unggulan yang ada di wilayahnya. Sebagai penghasil kopi terbesar di Kabupaten Semarang, kecamatan ini lantas mencanangkan gerakan untuk mencintai dan mengonsumsi kopi lokal produk sendiri.

Sebagai langkah awal, Pemerintah Kecamatan Jambu menggelar 'Turnamen Ngopi Bareng', secara serentak, di 65 dusun yang tersebar di 10 desa di sana Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kecintaan warga tiap-tiap dusun terhadap kopi yang ada di wilayah mereka.

“Makanya, kami mengambil momentum Hari Sumpah Pemuda untuk kegiatan Turnamen Ngopi Bareng ini,” kata Camat Jambu, M Edi Sukarno, yang dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, luas lahan tanaman kopi yang dibudidayakan warga di wilayah Kecamatan Jambu saat ini telah mencapai 3.500 hektare. Dari luas lahan ini, Kecamatan Jambu mampu memproduksi bijih kopi lebih dari 1.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan kopi lokal maupun pasar ekspor.

Selain itu, warga di sejumlah dusun yang ada, sebagian besar juga sudah melakukan pengolahan kopi pascapanen dan memproduksi kopi olahan dalam kemasan, dengan branding kopi Kelir. Oleh karena itu, gerakan minum kopi lokal (produksi warga Jambu) ini dicanangkan.

Ke depan ia ingin, seluruh warung, kios, dan toko yang ada di wilayah Kecamatan Jambu tidak menjual kopi sachet olahan pabrik yang kini marak di pasaran. Namun semuanya menjual  kopi produksi masyarakat Jambu agar pendapatan masyarakat di Kecamatan Jambu juga meningkat.

Ia mengaku sudah menghitung, di wilayah Kecamatan jambu ada sekitar 7.000 warung, kios, hingga toko yang menjual kopi sachet produksi pabrikan. Dengan produksi hilir yang dilakukan warga di tiap dusun, lebih dari cukup untuk menyuplai warung, kios, hingga toko-toko tersebut.

“Kalau bu Menteri Susi Pujiastuti bisa ‘menenggelamkan’ kapal-kapal nelayan asing yang mengeksplorasi kekayaan laut kita, maka para petani kopi di Kecamatan Jambu juga bisa ‘menenggelamkan’ kopi sachet olahan pabrik yang ada di warung, kios, dan toko- toko,” ungkapnya.          

Edi juga mengapresiasi semangat warga untuk mewujudkan gerakan cinta kopi produk lokal, melalui Turnamen Minum Kopi Bareng. Tak kurang 10 ribu warga dari 65 dusun di Kecamatan Jambu cukup antusias untuk mengikuti kegiatan ini. “Insya Allah, ikhtiar kami untuk mengangkat produk kopi lokal akan akan terwujud,” katanya.

M Wahyu Alfaizin (24 tahun), Ketua Karang Taruna Pandawa, Dusun Wawar Kidul, Desa Bedono mengungkapkan, di antara dusun yang ada di wilayah Kecamatan Jambu, produksi kopi di Dusun Wawar Kidul paling kecil. Karena luas lahan kopi rakyat yang ada hanya sekitar 20 hektare.

Namun mayoritas petani kopi yang tergabung dalam kelompok Tani Manunggal III umumnya telah memproduksi kopi bubuk secara tradisional untuk kebutuhan sendiri. “Saat ini, karang taruna dan anggota kelompok tani juga tengah belajar cara pengemasan yang baik,” jelas dia, di dampingi Ketua Kelompok Tani Manunggal III, Tribowo (53).

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Manunggal VIII, Dusun Wonokasihan, Desa Bedono, Halip Tarmiaji (35) mengungkapkan, sangat mendukung gagasan pihak kecamatan untuk mengangkat kopi lokal. Karena ini sudah dilakukan oleh para petani yang ada di dusunnya.

Selama ini, Dusun Wonokasihan memang merupakan penghasil kopi terbesar di Kecamatan Jambu. Luas lahan tanaman kopi rakyat di dusun ini hanya sekitar 57 hektare. Namun para petani juga mengelola lahan Perum Perhutani untuk budi daya tanaman kopi melalui skema LMDH hingga mencapai 225 hektare.

Dari luas ini, tiap panen raya mampu menghasilkan 2.000 ton cherry, atau setara 500 ton green bean. Sebagian produksi kopi petani ini juga untuk menyuplai ke PTPN IX.  “Beberapa warga Dusun Wonokasihan juga telah memproduksi kopi hasil petani menjadi kopi bubuk dalam kemasan dengan branding ‘Robusta Gunung Kelir’ Wonokasihan,” tambahnya.     

Sementara itu, Bupati Semarang, dr H Munjirin, menyambut baik gerakan masyarakat Jambu untuk mecintai produk lokal mereka. Menurut bupati, hal ini akan menjadi kunci dalam menghadapi era perdagangan bebas.

Dengan menggunakan produk lokal, maka akan menumbuhkan rasa kebanggaan dan kecintaan terhadap produk asli daerah sendiri, khususnya kopi. “Sehingga pada saatnya kecintaan ini juga akan mampu meningkatkan pendapatan para petani kopi di wilayah Kecamatan Jambu ini,” jelasnya.

Untuk itu, ia pun meminta kepada Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan setempat untuk mengawal gerakan yang dicita-citakan masyarakat di Kecamatan jambu ini. “Baik melalui pendampingan, pelatihan, dan peningkatan kapasitas SDM untuk produk hilir,” jelas Mundjirin.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement