Selasa 30 Oct 2018 10:24 WIB

Mengapa Masih Baru Pesawat Lion Air Jatuh?

Pesawat baru dioperasikan pada 15 Agustus lalu.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah
Awak KRI Kobra 867 Letnan Satu Fadhillah menunjukkan kartu identitas dari tas yang ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Laut Jawa, Senin (29/10)
Foto: Mahmud Muhyidin
Awak KRI Kobra 867 Letnan Satu Fadhillah menunjukkan kartu identitas dari tas yang ditemukan di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Laut Jawa, Senin (29/10)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesawat Lion Air JT 610 jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) usai beberapa menit lepas landas dari Jakarta. Belum diketahui secara pasti penyebab kecelakaan, namun pesawat yang jatuh tersebut baru saja dibeli Lion.  

Pesawat Boeing 737 MAX 8 tergolong seri teranyar dan baru dioperasikan Lion pada 15 Agustus lalu. Ini merupakan pertama kecelakaan yang melibatkan pesawat semacam itu.

Baca Juga

Sisa-sisa puing pesawat dengan tujuan Pangkal Pinang tersebut telah ditemukan sebagian. Seluruh penumpang dan awak yang berjumlah 189 orang diyakini tewas. 

Analis penerbangan, Gerry Soejatman seperti dilansir BBC mengatakan, risiko kecelakaan tinggi terjadi pada pesawat-pesawat tua.  Namun  sebenarnya, hal yang sama juga bisa terjadi pada pesawat baru.

"Jika sangat baru, terkadang ada hambatan yang hanya terlihat setelah mereka digunakan secara rutin, biasanya terdeteksi pada tiga bulan pertama," ujarnya. Sementara, pesawat JT 610 baru mencapai tiga bulan pertamanya dalam beberapa pekan lagi.

photo
Awak KRI Tenggiri 865 dan Kapal Tunda Pertamina menyusuri lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Laut Jawa, Senin (29/10)

Analis lain, Jon Ostrower dari penerbangan The Air Current mengatakan, pesawat baru memang ada selalu sedikit masalah dan ini merupakan hal biasa. Namun  hal itu tak akan sampai mengancam keselamatan pesawat terbang. "Pesawat baru umumnya menikmati 'maintenance holiday', sebab semuanya sangat baru, bukan sebaliknya," kata Ostower.

Baca juga, Pesawat Lion Air Jatuh di Dekat Lapangan Minyak Pertamina.

Kedua analis mengatakan, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan menyoal penyebab-penyebab jatuhnya dengan penerbangan JT 610. "Saya tidak tahu apa yang membuat pesawat baru kecelakaan. Ada banyak faktor berbeda yang menyebabkan kecelakaan seperti ini," ujar Ostrower.

Sementara Soejatman meyakini ada persoalan teknis pada pesawat. Namun ia tak mau menyimpulkannya saat ini.

Boeing 737 MAX 8 baru digunakan secara komersial sejak 2017. Maskapai penerbangan Lion Air mengatakan pada Juli lalu, bangga untuk menjadi maskapai pertama di Indonesia yang menggunakan Boeing 737 MAX 8. Pihak Lion Air pun memesan sebanyak 218 unit. Sementara JT 610 baru beroperasi pada 15 Agustus lalu.

Perusahaan Boeing mengatakan dalam keterangan persnya menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban dan mengatakan, akan bekerja sama dalam proses penyeldiikan.

Menurut Boeing, seri 737 MAX merupakan pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarahnya. Penjualannya mengumpulkan pesanan hampir 4700 pesanan. MAX 8 telah dipesan oleh maskapai penerbangan termasuk American Airlines, United Airlines, Norwegia, dan FlyDubai.

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan, perusahaan maskapai Lion Air mencatat pesawat JT 610 baru memiliki 800 jam waktu penerbangan.

photo
Lion Air
photo

Sebelumnya pilot pesawat menghubungi  pengawas lalu lintas udara radio (ATC) di Jakarta. Pilot meminta kembali ke bandara sesaat setelah lepas landas.

Dalam keterangannya, Senin (29/10), Soerjanto mengungkapkan bahwa pilot Lion Air sempat meminta kembali ke bandara Soekarno-Hatta sekitar dua menit usai lepas landas dari bandara. Permintaan itu disetujui oleh menara pengawas. Namun selang beberapa menit setelah permintaan itu, pesawat hilang dari radar.

 

 

sumber : BBC
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement