Sabtu 20 Oct 2018 21:28 WIB

Data Terbaru, 2.113 Korban Meninggal akibat Gempa Sulteng

Korban terbanyak berada di Kota Palu.

Rep: Mimi Kartika/ Red: Friska Yolanda
Pembeli melakukan transaksi dengan pedangan di pasar Impres Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (20/10).
Foto: Darmawan / Republika
Pembeli melakukan transaksi dengan pedangan di pasar Impres Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (20/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban meninggal dunia akibat bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah sebanyak 2.113 orang per Sabtu (20/10). Jumlah ini bertambah 40 orang dari laporan terakhir BNPB pada Kamis (10/10) sebanyak 2.073 korban meninggal.

"Hingga Sabtu (20/10), dampak bencana di Sulawesi Tengah tercatat 2.113 orang meninggal dunia," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/10).

Sutopo merinci sebaran korban meninggal dunia tersebut yakni Kota Palu 1.703 orang, Donggala  171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang, dan Pasangkayu satu orang. Termasuk satu orang warga Korea Selatan yang ditemukan di Hotel Roa-Roa, Kota Palu. 

Ia mengatakan, semua korban meninggal dunia telah dimakamkan, baik pemakaman massal maupun pemakanan keluarga. Sutopo juga mencatat, sebanyak 1.309 orang hilang, 4.612 orang luka-luka, dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

"Tidak benar adanya berita yang memberitakan dua orang warga Belanda yang juga menjadi korban meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan Hotel Roa-Roa," kata Sutopo.

Ia menjelaskan, Tim Posko Kementerian Luar Negeri dan Basarnas sudah menelusuri berita tersebut. Tim SAR gabungan yang dikoordinasikan oleh Basarnas hanya menemukan satu jenazah warga negara Korea Selatan pada 4 Oktober 2018. Pencarian korban di Hotel Roa-Roa juga sudah dihentikan sejak 8 Oktober 2018.

Sutopo menambahkan, pembangunan hunian sementara (huntara) dan tenda-tenda terus dilakukan untuk pengungsi. Begitu juga sarana dan prasarana kebutuhan mandi cuci kakus (MCK), air bersih, dan sanitasi dibangun di sekitar tempat pengungsian. 

"Mendekati musim penghujan kebutuhan huntara dan tenda yang layak untuk pengungsi menjadi kebutuhan mendesak," jelas Sutopo.

Selain itu, lanjut dia, kebutuhan mendesak lainnya yang masih diperlukan antara lain beras, gula, makanan bayi, susu anak, susu ibu hamil, kantong plastik, tenda, selimut (bayi, anak-anak, dewasa), minyak kayu putih, sabun mandi, pasta gigi, minyak goreng, seragam anak sekolah, buku dan peralatan sekolah, air bersih, MCK, penerangan di pengungsian, sanitasi, dan kebutuhan dasar lainnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement