Kamis 21 Jun 2018 06:00 WIB

Rusaknya Manajemen Alam Buat Kekeringan Air Semakin Meluas

Perbaikan lingkungan harus lebih ditingkatkan.

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Muhammad Hafil
Kekeringan. Ilustrasi
Foto: Foxnews
Kekeringan. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Widjaja mengatakan, musim kering di Indonesia mengakibatkan sejumlah daerah yang merupakan daerah tandus kekurangan air. Namun, kebutuhan air bersih juga kerap terjadi di daerah yang seharusnya memiliki cadangan air bersih cukup banyak.

Wisnu menutukan, beberapa daerah di Pulau Jawa pun masyarakatnya kerap membutuhkan suplai air bersih. Padahal daerah tersebut terbilang tidak memiliki kawasan tadah hujan. Yang jadi persoalan dalam kekeringan tersebut dikarenakan banyak daerah yang seharusnya dijadikan tadah hujan pohonya habis ditebangi.

"Sekarang ini kalau musim hujan air berlimpah dan jadi banjir, tapi kalau musim kering kekurangan air. Ini karena daya dukung water manajemen yang sudah tidak bagus," ujar Wisnu, Rabu (20/6).

Perbaikan lingkungan khususnya hutan yang dijadikan tempat menampung air sudah harus digalakan lebih giat oleh pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah. Minimnya daerah tangkapan air hujan membuat air yang jatuh dari langit tidak ditampung di dalam tanah terlebih dahulu, tapi langsung mengalir ke sungai-sungai.

Hal ini kemudian bisa berdampak pada daerah pemukiman warga yang lebih rendah dengan datangnya banjir. Pun dengan daerah aliran sungai (DAS) yang selama ini seharusnya mampu menampung air yang mengalir dari sumber mata air semakin sempit dan dangkal.

"Kalau tidak salah tutuhan lahan di Jawa sekarang ini hanya 10 persen. Jadi hutan yang kecil tidak imbang dengan neraca air yang turun," ujarnya.

Wisnu menuturkan, kampanye hemat air pun harus semakin dipopulerkan karena banyak masyarakat sekarang yang tidak sadar bahwa menghemat air merupakan salah satu cara mencegah kekurangan air bersih dalam waktu ke depan.

Di sisi lain, pemerintah dan masyarakt pun nampaknya harus mulai merubah pemikiran untuk membangun rumah horizontal. Sebab hal ini membuat banyak lahan yang seharusnya bisa menyerap air terhalang oleh beton. Pembangunan rumah vertikal menjadi cara lain dalam menjaga lahan sebagai alat menampung air dan memproduksi pangan. Jangan sampai karena keogosian pribadi maka kebutuhan air dan pangan semakin sedikit karena tidak adanya lahan yang bisa memproduksi kedua kebutuhan dasar ini.
 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement