Rabu 23 May 2018 04:35 WIB

Puasa Ramadhan-5

Karakter manusia semuanya bermuara dari apa yang ada di hatinya.

Ustadz Imam Shamsi Ali memberikan paparannya saat kunjungan di Kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (23/3).
Foto: Republika/Mahmud Muhyidin
Ustadz Imam Shamsi Ali memberikan paparannya saat kunjungan di Kantor Republika, Jalan Warung Buncit, Jakarta, Jumat (23/3).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation

 

“Barangsiapa yang belum meninggalkan perkataan dan perbutan dosa, maka tiada hajat bagi Allah untuk dia tinggalkan makan dan minum”. (Hadis). 

Sesungguhnya semua amalan ibadah dalam Islam itu bertujuan, selain menjadi kendaraan atau kunci masuk syurga, tidak kalah pentingnya untuk menjadi mesin atau penggerak transformasi hidup dan prilaku. Dengan ibadah-Ibadah yang kita lakukan dibaharpkan hidup kita menjadi lebih baik dan benar. 

Ibadah shalat misalnya: “sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (Al-Quran). 

Dalam sebuah hadis: “barang siapa yang tidak dicegah oleh sholatnya dari perbuatan keji dan mungkar maka tiada sholat baginya” (Hadis) 

Demikian pula zakat, haji dan seluruh amalan ritual dalam Islam tentunya dimaksudkan untuk menjadi mesin transformasi hidup ke arah yang lebih baik dan benar. Tidak terkecuali tentunya puasa Ramadan.

Jika kita melihat puasa sekali lagi, niscaya akan kita dapati bahwa substansi dasar dari puasa itu adalah menahan. Menahan inilah yang dalam bahasa agama dikenal dengan istilah “imsak”. 

Dengan demikian, hal mendasar yang harus disadari dari puasa ini adalah kita mujahadah (berjuang) terus dan maksimal untuk menaklukkan ganasnya dorongan hawa nafsu manusiawi kita. 

Hal pertama yang harus ditransformasi melalui puasa adalah cara pandang kita terhadap kehidupan. Jika selama ini wawasan kehidupan kita adalah wawasan materi atau dunia semata, kini wawasan diubah menjadi hidup yang imbang. Hidup yang tidak menyepelekan urusan dunia. Tapi, kesungguhan dalam membangun dunia tidak harus mengorbankan hidup ukhrawi abadi kita.

Inilah yang saya sebut sebagai hidup dunia yang “akhirah oriented”. Berusaha untuk dunia, membangun dunia, sukses dalam dunia, tapi tujuannya tetap demi kebahagiaan abadi di akhirat kelak. 

Puasa harus mempu membawa transformasi itu. Karena diakui atau tidak, hidup kita saat ini didominasi oleh ketamakan dunia yang tanpa batas. Katamakan dunia tanpa batas ini yang dikenal dalam bahasa modern dengan paham materialisme.

Sekali lagi, sebagaimana Alquran menyampaikan: “telah nampak kerusakan di darat dan di lautan karena apa yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia”. (Alquran). 

Tapi jangan lupa, ayat di atas pada surah yang sama, At-Rum, didahului dengan pernyataan: “mereka mengetahui masalah-masalah lahiriyah dari hidup dunia ini. Tapi tentang akhirat mereka lalaikan”. 

Artinya bahwa kerusakan-kerusakan yang disebut pada ayat di atas, faktanya disebabkan oleh pandangan hidup materialisme. Ungkapan “mengetahui hal-hal lahiriyah dari hidup dunia” itulah materialisme. 

Dan karenanya puasa yang susbtansinya “menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami isteri” itu semuanya bermakna menahan diri dari kecenderungan berpaham materialisme. Puasalah melatih kita bahwa hidup tidak sekedar materi dan fisik, tapi ada sesuatu yang mendasar namun sering terabaikan. Itulah aspek ruhiyah dalam hidup kita.

Dan puasa inilah yang menjadi fondasi kuat dalam membangun kehidupan ruhiyah manusia. Sisihkan sementara dorongan nafsu duniawi yang diwakili oleh perut dan bawah perut, agar ruhiyah kita menguat dan imbang dengan kekuatan dorongan duniawi itu.

Transformasi lain yang menjadi sangat fundamental di bulan puasa ini adalah  transformasi karakter (prilaku) manusia. Karakter manusia yang dibangun oleh Islam adalah karakter yang berakhlakul Karimah. 

Yaitu karakter yang mulia, yang secara universal indah dan tidak mengganggu dalam membangun hubungan antar manusia. Dalam tatanan ajaran agama Islam, karakter mulia ini yang lebih dikenal dengan “akhlak karimah”. 

Karakter manusia semuanya bermuara dari apa yang ada di hatinya. Hitam atau putih prilaku manusia semuanya tergantung kepada suasana hatinya. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam hadisnya: “ Sungguh ada segumpal darah dalam tubuh, yang jika baik maka baik pula seluruh anggota tubuh lainnya. Tapi jika rusak, maka rusak pula semua anggota tubuh. Itulah hati...” 

Maka, puasa yang memang sangat berkaitan dengan hati, berbagai amalan dari puasa itu sendiri, qiyam, tilawah dan berbagai amalan lainnya semuanya menunmbuh suburkan hati pelakunya.

Oleh karenanya sangat wajar jika hati yang subur itu akan melahirkan karakter yang juga mulia. Dan dengan sendirinya puasa juga menjadi “jalan” kesempurnaan agama. Karena akhlak karimah adalah simbol dari kesempurnaan agama seseorang. 

Itu yang dideklarasikan oleh Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia”. 

Semoga puasa kita menjadi transformer kepada nilai-nilai dan prilaku mulia kita. Amin! 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement