Ahad 15 Apr 2018 14:58 WIB

Pemkot Bandung Gelar Karnaval Negara Asia Afrika

Karnaval akan diikuti negara-negara Asia Afrika.

Rep: Zuli Istiqomah/ Red: Esthi Maharani
Peserta dari Mancanegara pawai Asia Afrika dan pawai Budaya Keraton Nusantara berjalan serta menghibur warga saat mengikuti acara gelaran Karnaval Asia Afrika 2017 di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu (13/5).
Foto: Mahmud Muhyidin
Peserta dari Mancanegara pawai Asia Afrika dan pawai Budaya Keraton Nusantara berjalan serta menghibur warga saat mengikuti acara gelaran Karnaval Asia Afrika 2017 di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu (13/5).

REPUBLIKA.CO.ID,  BANDUNG -- Pemerintah Kota Bandung bersama Museum Asia Afrika akan menggelar peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke -63. Berbagai rangkaian acara sudah dipersiapkan untuk memperingati peristiwa bersejarah internasional itu. Pemkot Bandung akan mengadakan karnaval yang diikuti negara-negara Asia Afrika. Gelaran bertajuk Asia Africa Carnaval (AAC) 2018 yang dilaksanakan pada 29 April 2018.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Aswin Sulaeman mengatakan secara keseluruhan telah ada 74 peserta yang mendaftar mengikuti AAC 2018. Di antaranya beberapa negara yang terlibar dalam KAA pada tahun 1955 tersebut.

"1955 ada konferensinya. Nah tahun ini kita mengangkat sejarah itu ke permukaan.Kita akan mengundang dan sudah ada 74 peserta kegiatan yang memastikan akan terlibat karnaval. Ada darinegara tertangga seperi Malaysia, Filipina dan seluruh Indonesia juga dari swasta," kata Aswin baru-baru ini.

Menurutnya, secara internasional Pemkot Bandung mengundang 109 negara peserta KAA. Namun karena keterbatasan waktu, tidak semua negara Asia Afrika bisa memgirimkan delegasinya dalam karnaval tersebut.

Dalam karnaval ini, para peserta akan berjalan kaki kurang lebih sejauh 3,1 kilometer dengan rute Gedung Merdeka, Banceuy, Cikapundung, dan Jalan Asia Afrika sebagai pusat kegiatan peringatan KAA. Mereka akan berparade dengan menampilkan karakteristik budaya masing-masing.

Ia mengatakan peristiwa KAA memang menjadi bagian sejarah yang rutin diperingati tiap tahunnya sejak 2009. Bukan hanya sekadar peringatan, tapi juga agar nilai-nilai peringatan KAA bisa senantiasa tertanam dalam diri masyarakat.

"Peringatan ini juga menandai sejarah bahwa Indonesia beserta negara-negara di Asia dan Afrika menjunjung perdamaian dan kemerdekaan bangsa serta menentang penjajahan dan kolonialisme," ujarnya.

Museum KAA yang berada di bawah naungan Kementerian Luar Negeri juga mengadakan serangkaian acara yang dimulai sejak akhir Maret lalu hingga puncak acara akhir April nanti. Mulai dari lomba tingkat SD hingga seminar internasional yang dihadiri perwakilan negara-negara Asia Afrika.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan peringatan KAA menjadi salah satu agenda penting tiap tahunnya. Melalui peringatan ini, ia ingin masyarakat terus mengingat nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa.

"Kami ingin menumbuhkan sense of ownership (rasa memiliki) nilai-nilai KAA. Ada Dasasila Bandung, nilai kesetaraan, perdamaian, toleransi dan kerjasama," kata Meinarti.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement