Sabtu 07 Apr 2018 14:32 WIB

Wisatawan Asing dan Pelajar Ramaikan Museum Multatuli

Perjuangan Douwes Dekker mengangkat nasib buruk warga Lebak dari penderitaan.

(ki-ka) Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, Bupati Kabupaten Lebak Iti Octavia, Sejarawan Bonnie Triyana, dan Wakil Bupati Lebak Ade Sumardi saat menggelar Taklimat Media usai meresmikan museum Multatuli di di Jalan Alun-alun Timur Nomor 8, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Ahad (11/2).
Foto: Republika/Gumanti Awaliyah
(ki-ka) Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, Bupati Kabupaten Lebak Iti Octavia, Sejarawan Bonnie Triyana, dan Wakil Bupati Lebak Ade Sumardi saat menggelar Taklimat Media usai meresmikan museum Multatuli di di Jalan Alun-alun Timur Nomor 8, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, Ahad (11/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --   Pengunjung wisatawan museum Multatuli di Kabupaten Lebak, Banten, dilirik para pelajar karena bagian sejarah bangsa Indonesia yang mendunia.

"Kita hari Jumat (6/4) menerima kunjungan pelajar dari Jakarta sebanyak 50 orang," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lebak Wawan Sukmara di Lebak, Sabtu (7/4).

Selama ini, sebagian besar pengunjung Museum Multatuli kalangan pelajar juga terdapat wisatawan asing dari Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis,

Bahkan, terdapat pengunjung wisatawan dari Direktur Konservator Multatuli Huis Amsterdam.

Kehadiran gedung museum Multatuli yang lokasinya di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Lebak menambah khanasah budaya yang memberikan pengetahuan sejarah bagi masyarakat, mahasiswa hingga pelajar.

Dimana zaman 'Max Havelaar' yakni Edward Douwes Dekker warga Belanda yang menjabat seorang Asisten Residen Lebak 1850 dan melihat nasib buruk rakyat Lebak.

Dimana penindasan yang dilakukan penjajah Belanda bertindak sewenang-wenang terhadap kaum bumi putra, mereka diperas oleh para mandor, para demang, dan para bupati.

Mereka keluarga para kuli tinggal di desa-desa sekitar perkebunan secara melarat dan ditindas dengan diperlakukan kurang adil oleh para petugas pemerintah setempat.

Karena itu, novel Max Havelaar karya pena Multatuli merupakan bagian sejarah dunia.

"Kami mengapresiasi gedung museum Max Havelaar itu banyak dikunjungi pelajar," katanya menjelaskan.

Menurut dia, gedung museum dilengkapi miniatur VOC, 34 artepak Edward Douwes Dekker juga perabotan rumah tangga.

Selain itu juga satu ruangan menceritakan kisah hidup Multatuli juga ruangan sejarah Banten.

Selain itu juga surat Eduard Douwes Dekker untuk Raja Willem III melakukan protes atas sikap di tanah jajahan yang melakukan penindasan hingga pemberitahuan perihal naskah buku Max Havelaar yang akan terbit.

Dalam surat ini, Douwes Dekker memohon agar Raja Willem III memberikan perhatian lebih kepada Hindia Belanda yang dikelola banyak merugikan rakyat.

Disamping itu juga dilengkapi potensi budaya kehidupan masyarakat Badui dan pertambagan emas Cikotok.

"Kami berharap musem Multatuli agar generasi penerus mengenang sejarah," katanya.

Pemerhati budaya dari Amsterdam, Belanda Direktur Konservator Multatuli Huis Amsterdam, Klaartje Groot, mengapresiasi museum Multatuli di Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak ternyata mencintai sejarah Multatuli, di mana kaum kolonial telah melakukan kesalahan besar dengan melakukan kerja paksa dan penindasan terhadap masyarakat pribumi sehingga mereka pada masa lalu hidup menderita.

Kesengsaraan dan kelaparan dialami masyarakat Kabupaten Lebak akibat pajak dikeruk oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Eduard Douwes Dekker yang diutus pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai Asisten Residen Lebak pada 1850 untuk ditugaskan di Kabupaten Lebak.

Perjuangan Douwes Dekker mengangkat nasib buruk warga Lebak dari penderitaan.

Selain pekerja keras, Douwes Dekker juga suka membantu masyarakat Kabupaten Lebak.

"Kami dari Belanda datang ke sini ingin melihat langsung gedung Museum Multatuli itu," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement