Rabu 21 Mar 2018 23:52 WIB

BMKG: Dampak Mentawai Megathrust Harus Diwaspadai

ketika gempa terjadi, ia mengimbau masyarakat agar tidak panik

Gempa. Ilustrasi
Foto: Reuters
Gempa. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Masyarakat yang berada di wilayah daratan harus mewaspadai dampak Mentawai Megathrust, kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Padang Panjang Sumatera Barat, Rahmat Triyono. Dampak Mentawai megathrust tidak hanya di pesisir pantai, namun juga daerah yang tidak memiliki laut seperti Kota Bukittinggi.

Menurutnya selama ini beberapa daerah pesisir sudah meningkatkan kewaspadaanya terhadap Mentawai megathrust. "Sehingga masyarakat yang berada di daratan juga perlu disiapkan dalam menghadapi bencana alam itu," kata Rahmat, Rabu (21/3).

Ia meminta seluruh daerah juga mempersiapkan diri karena pihaknya sudah membuat skenario dengan kekuatan gempa 8,9 skala richter dampak untuk daerah daratan seperti Bukittinggi, Padang Panjang dan Solok itu mencapai tujuh Skala "Modified Mercalli Intensity" (MMI). Tujuh MMI itu, dapat menyebabkan kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik.

Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah dan terasa oleh orang yang naik kendaraan. Dalam seminar sehari memperingati hari meteorologi dunia ke-68 di Universitas Negeri Padang itu ia menyampaikan potensi bencana akibat Mentawai megathrust tidak hanya tsunami namun juga ada dampak sekunder seperti kebakaran.

Ketika gempa terjadi, jelasnya masyarakat yang panik sehingga tidak memperhatikan hal-hal yang menimbulkan bencana lainnya yang dapat merenggut nyawa salah satunya kebakaran yang disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya lupa mematikan kompor. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat yang tidak dalam wilayah dampak tsunami dan sedang menghidupkan kompor, kemudian terjadi gempa maka hal yang pertama kali dilakukan adalah mematikan kompor.

"Matikan dulu kompor, setelah itu baru bersembunyi di bawah meja," ujar dia.

Mentawai Megathrust merupakan zona subduksi antara kerak Samudera dengan lempeng Sumatera, kondisi kerak samudera menghunjam ke bawa lempeng Indo-Australia di Sumatera. Mentawai megathrust berpotensi mengeluarkan energi 8,9 skala richter (SR) dan berpotensi tsunami.

Potensi gempa 8,9 SR dikatakan merupakan sebuah siklus 200 tahunan gempa di Patahan Siberut. Sebelumnya Pakar Gempa dari Universitas Andalas (Unand) Dr Badrul Mustafa mengatakan Sumbar secara umum belum termasuk kepada daerah yang sadar gempa karena di beberapa kabupaten/kotanya masih terdapat bangunan tidak tahan bencana itu.

"Saya ingin pemerintah setempat dapat mendorong daerah-daerah yang rawan bencana gempa dan tsunami dapat meningkatkan kesiapsiagaannya baik itu fisik dan non fisik dalam menghadapi bencana itu," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement