Kamis 07 Dec 2017 19:52 WIB

'TransJogja Harus Perbaiki Mutu Pelayanan'

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Fernan Rahadi
Bus TransJogja
Foto: Antara/Regina Safria
Bus TransJogja

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- TransJogja dinilai perlu memperperbaiki mutu pelayanan, terutama jarak antara satu bus dengan bus berikutnya agar tidak terlalu lama. Untuk itu TransJogja dinilai harus menambah armada bus dan jumlah halte sehingga penumpang turunnya tidak terlalu jauh dari lokasi yang dituju.

Anggota Komisi C DPRD DIY Chang Wendryanto pada Republika, Kamis (7/12) mengatakan semakin menurunnya jumlah penumpang berakibat pada menurunnya pendapatan TransJogja. Selama ini, kata Chang, masih ada pelayanan TransJogja yang kurang, di antaranya jam-jamnya yang tidak tepat, sopirnya masih ada yang ugal-ugalan, dan ngeblong di lampu merah sehingga orang tua takut naik TransJogja.

Karena itu, kata dia, jam TransJogja harus diperbanyak. Sedangkan jarak halte satu dengan lainnya jangan terlalu jauh karena berakibat memakan waktu yang lama. Ia memberi contoh, halte bus TransJogja di Malioboro yang di daerah Pajeksan tidak ada, sehingga kalau orang berjalan dari halte bus ke Pajeksan memakan waktu yang lama.

Mengenai berkurangnya pendapatan TransJogja di tahun ini, yakni sekitar Rp 3 miliar sebagaimana yang dikatakan Kepala UPT TansJogja DInas Perhubungan DIY Sumariyoto, menurut Chang perlu dikaji lagi. Lebih lanjut mengenai wacana adanya jalur khusus untuk TransJogja perlu dikaji ulang. 

"Kalau Malioboro diberi jalur khusus nanti semakin menambah kemacetan karena Malioboro jalannya sempit, atau dibuat jalur khusus di persimpangan khusus TransJoga. Itu perlu dikaji lebih mendalam," ujarnya.

Menurut dia, aparat juga harus benar-benar menegakkan aturan. "Jangan seperti di Jakarta, jalur TransJakarta dipakai untuk angkutan umum yag lain. Kalau aturan belum bisa ditegakkan oleh aparat tidak usah dibangun jalur khusus. Karena nanti malah akan menghabiskan biaya dan menambah semrawut," kata Chang.

Ia melontarkan wacana untuk TransJoga atau angkutan umum lainnya sebaiknya armadanya jangan terlalu besar. Menurutnya, adanya angkutan umum berbasis daring tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dilarang karena sesuai dengan kemajuan zaman. "Untuk menarik penumpang, TransJogja harus membuat terobosan agar penumpang tertarik untuk naik TransJogja misalnya dengan kupon berhadiah, dan lain-lain," katanya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement