Selasa 24 Oct 2017 17:37 WIB

Petani Singkong Lampung Keluhkan Harga Jual yang Merosot

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Dwi Murdaningsih
Singkong
Singkong

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Petani singkong atau ubi kayu di wilayah Lampung terus mengeluhkan harganya yang cenderung merosot. Padahal, produksi singkong di Lampung menyuplai kebutuhan nasional sebesar 30 persen. Dampaknya, petani singkong banyak beralih ke tanaman lain yang menguntungkan.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung akan menggelar Forum Koordinasi Dewan Riset Daerah (DRD) se-Sumatra I yang akan berlangsung di Bandar Lampung, Rabu-Kamis (25-26/10). Forum tersebut akan membahas produksi dan harga singkong yang menjadi keluhan petani.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Lampung Mulyadi Irsan mengatakan, produksi singkong di Lampung berlimpah, namun harga jual selau rendah, membuat permasalahan yang tidak terus terpecahkan.

"Lampung disebut sentra produksi singkong, seharusnya membawa kesejahteraan petani singkong. Tapi harga tak kunjung berubah," ujarnya.

Ia berharap forum DRD dapat membahas persoalan yang menimpa petani singkong yang nasibnya masih belum menentu. Dengan DRD, menurut dia, permasalahan produksi singkong dan penjualannya akan dibahas sehingga kesejahteraan petani meningkat.

Forum DRD tersebut, akan mempertemukan para stakesholder di daerah lain untuk bersama mengupayakan rumusan bersama pemerintah daerah masing-masing, sehingga menemui kesepakatan yang akan diajukan ke pemerintah pusat.

Ia mengatakan bentuk kesepakatan tersebut intinya produksi singkong di masing-masing daerah terus membaik, dan harganya juga ikut membaik. Sehingga baik petani maupun pelaku industri berbahan baku singkong juga berjalan dengan nyaman.

Wakil Dewan Riset Lampung Andi Desfiandi menyebutkan, singkong produksi Lampung mampu menyuplai kebutuhan nasional mencapai 30 persen. Tetapi, ungkap dia, selama ini produksi melimpah tidak ada jaminan harga singkong ikut membaik.

Menurut dia, belum stabilnya harga singkong membuat produksinya menurun, karena petani singkong beralih ke tanaman lain yang lebih menjanjikan harganya. Saat ini harga singkong bisa anjlok hingga Rp 300 atau Rp 500 per kg, padahal harga pasaran sudah RP 1.250 per kg.

Persoalan ini, ujar dia, bila tidak segera ditangani maka produksi singkong akan terus menurun dan kebutuhan nasional tak tercukupi. "Seharusnya petani singkong di Lampung sudah sejahtera kalau harganya normal," ujarnya.

Menurut dia, Forum DRD mendatang akan menghasilkan kesepakatan yang baik untuk disampaikan ke Menteri Pertanian dan presiden. Sehingga keputusan pemerintah pusat akan mempertimbangkan persoalan singkong tersebut secara nasional.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement