Jumat 29 Sep 2017 19:47 WIB

Kemenhub Pastikan Penerbangan ke dan dari Bali Aman

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Teguh Firmansyah
Asap mengepul dari kawah Gunung Agung yang berstatus awas terlihat dari Desa Amed, Karangasem, Bali, Jumat (29/9).
Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Asap mengepul dari kawah Gunung Agung yang berstatus awas terlihat dari Desa Amed, Karangasem, Bali, Jumat (29/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan penerbangan pesawat dari dan ke Bali masih aman. Hal itu terkait status awas Gunung Agung, Karangasem, Bali. 

Meskipun begitu, menurut Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso, Kemenhub sudah menyiapkan kesiapan yang pasti jika gunung tersebut nantinya meletus. Hanya saja, Agus memastikan saat ini belum memberikan efek signifikan untuk penerbangan.

"Jadi dalam kondisi sekarang dengan beberapa gempa dan sebagainya tidak memberikan efek kepada dunia penerbangan sehingga masih aman," kata Agus di Kementerian Perhubungan, Jumat (29/9).

Selain kondisi tersebut, abu vulkanik juga menjadi salah satu indikator penting untuk Kemenhub menentukan antisipasi. Agus menjelaskan selama belum ada abu vulkanik di ruang udara dan di Bandara Ngurah Rai, Bali maka penutupan bandara belum dilakukan.

Selain itu, Agus juga menegaskan Kemenhub sudah menyiapkan beberapa bandara lain untuk antisipasi. "Bandara di Jakarta, Surabaya, dan Lombok kami sudah cek kesiapannya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan jika Gunung Agung meletus," ungkap Agus.

Letusan yang tidak bisa diprediksi, Lanjut Agus, tetap akan ada antisipasi yang dilakukan dengan adanya 30 pergerakan pesawat setiap jamnya. Dia menjelaskan, jika ada 20 pergerakan perjam maka ada 15 pendaratan dan 15 pemberangkatan dalam setiap jamnya.

Untuk mengantisipasi, Agus mengintruksikan untuk pesawat yang ingin mendarat di Bali harus bisa disalurkan ke sekitar Pulau Bali yang tidak terkena abu vulkanik.

"Jarak terdekat dari denpasar bali ini adalah bandar udara Lombok. Kami sudah kunjungi Lombok dan di sana ada yang kosong ini satu ruang untuk pesawat jenis body get yang bisa diparkir atau untuk empat pesawat jenis ATR 72 ini kapasitas yang masih bisa dipakai untuk bandar udara Lombok," ungkap Agus.

Demikian juga dengan bandara di Banyuwangi dan paling banyak di Surabaya yang bisa menampung pesawat yang lebih banyak jika di Bali dialihkan. Agus memastikan Bandara di Surabaya bisa menampung sepuluh pesawat medium atau jet.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement